• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Polusi Udara Memperburuk Pandemi Covid-19

by Redaksi Asiatoday
July 14, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Polusi Udara Memperburuk Pandemi Covid-19

Polusi Udara di Kota Detroit, salah satu kota paling tercemar di Amerika Serikat (AS). Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Polusi udara berkontribusi besar dalam memperburuk pandemi Covid-19. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat.

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, para peneliti mempelajari 2.038 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit akibat Covid-19 di Kota Detroit, salah satu kota paling tercemar di Amerika.

Para peneliti menemukan pasien yang membutuhkan perawatan intensif dan bergantung pada alat bantu napas banyak yang berdomisili di lingkungan dengan tingkat polusi udara dan cat timbal yang lebih tinggi. Semakin buruk kontaminasi udara lokal, semakin tinggi kemungkinan orang membutuhkan perawatan intensif dan ventilasi mekanis.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Menurut Anita Shallal dari Rumah Sakit Henry Ford Detroit, paparan jangka panjang terhadap polusi udara dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan membuatnya lebih rentan terhadap infeksi virus. Sementara itu, partikel halus dalam polusi udara juga dapat bertindak sebagai pembawa virus dan membantu penyebarannya.

Varian Beta meningkatkan kematian

Sementara itu, para peneliti di Afrika Selatan menemukan varian Beta dari virus corona mungkin lebih mematikan daripada virus versi asli. Peneliti mempelajari lebih dari 1,5 juta pasien Covid-19.

Meskipun varian Delta sekarang menyumbang persentase terbesar dari kasus Covid-19 baru di banyak negara, varian Beta juga masih beredar. Varian Beta memiliki mutasi yang membuatnya sangat menular dan lebih sulit untuk dicegah atau diobati daripada versi aslinya.

Para peneliti menemukan, orang yang terinfeksi pada gelombang kedua pandemi, ketika Beta dominan, lebih mungkin memerlukan rawat inap daripada mereka yang terinfeksi selama gelombang pertama, setelah memperhitungkan faktor risiko pasien dan seberapa beban rumah sakit.

Menurut laporan yang diterbitkan Jumat di The Lancet Global Health, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit memiliki risiko kematian 31 persen lebih tinggi pada gelombang kedua.

Para peneliti tidak mengetahui varian yang menginfeksi setiap pasien, jadi mereka harus menggunakan periode gelombang pertama dan kedua sebagai proxy untuk tipe varian.

“Kami berharap untuk mengulangi analisis, membandingkan gelombang ketiga di Afrika Selatan dengan dua gelombang pertama, untuk mencoba memahami apakah gelombang Delta dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi,” ujar rekan penulis Dr. Waasila Jassat dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular di Johannesburg.

Efektivitas vaksin mRNA

Menurut sebuah penelitian nasional, vaksin Covid-19 yang paling sering digunakan di Amerika Serikat efektif tidak hanya dalam uji klinis tetapi juga di dunia nyata. Temuan itu dilaporkan dalam sebuah makalah yang diunggah pada Kamis di medRxiv sebelum dikaji sejawat.

“Menggunakan data sampel orang dewasa AS yang dirawat di rumah sakit antara Maret dan Mei 2021, para peneliti menemukan vaksin mRNA dari Pfizer/BioNTech dan dari Moderna mencegah sekitar 87 persen rawat inap untuk Covid-19 yang akan terjadi jika vaksin tidak diberikan,” kata Dr. Wesley Self dari Vanderbilt University Medical Center.

Efektivitasnya serupa untuk kedua vaksin dan tertinggi, pada 97,3 persen di antara orang dewasa berusia 18 hingga 49 tahun Di antara individu yang mengalami imunosupresi, vaksin mencegah sekitar 59 persen rawat inap Covid-19 yang seharusnya terjadi. (ATN)

Tags: COVID-19Krisis Udara BersihPolusi Udara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.