• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Dampak Perubahan Iklim, Madagaskar Terancam Kelaparan

by Redaksi Asiatoday
September 15, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Dampak Perubahan Iklim, Madagaskar Terancam Kelaparan 1

Pemeriksaan kesehatan anak-anak di Madagaskar. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perubahan iklim kian menjadi momok bagi segenap penghuni planet bumi. Madagaskar tercatat sebagai salah satu negeri yang mengalami dampak krisis itu.

Pasalnya, bencana kelaparan kini mengancam penduduk di negeri itu. Banyak dari anak-anak telah mengalami mal nutrisi dan warga bertahan hidup dari makan buah kaktus.

Laporan IFL Science, yang dimonitor Rabu (15/9/2021), sejumlah besar orang di Madagaskar berada di ambang kelaparan setelah empat tahun curah hujan yang sangat rendah, dengan perubahan iklim telah diidentifikasi sebagai satu-satunya penyebab utama bencana tersebut.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Secara historis, kelaparan telah dihasilkan oleh kombinasi faktor-faktor seperti hama, bencana alam, konflik manusia, dan korupsi politik, namun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi kemanusiaan lainnya mengatakan bahwa ini adalah yang pertama dihasilkan semata-mata oleh efek dari emisi gas rumah kaca.

Bencana paling parah dirasakan arga di wilayah Grand Sud di selatan pulau itu, di mana 1,14 juta orang saat ini rawan pangan. Menurut PBB, jumlah orang yang hidup dalam kondisi “bencana” tingkat lima – kategori risiko paling parah – dapat mencapai 28.000 orang pada Oktober, sementara 110.000 anak menghadapi prospek kekurangan gizi dan “kerusakan permanen” pada pertumbuhan dan perkembangan mereka.

“Ini bukan karena perang atau konflik, ini karena perubahan iklim ,” jelas David Beasley, direktur eksekutif Program Pangan Dunia PBB (WFP).

Demikian juga, Issa Sanogo, Koordinator Residen PBB di Madagaskar, mengatakan bahwa “seperti inilah konsekuensi nyata dari perubahan iklim. Madagaskar menyumbang kurang dari 0,01 persen emisi gas rumah kaca global.

Fakta bahwa Madagaskar sekarang menjadi korban utama perubahan iklim tampaknya sangat tidak adil. “Warga menderita setiap hari dari konsekuensi bencana dari krisis yang tidak mereka ciptakan,” kata Sanogo.

Laporan dari mereka yang berada di Grand Sud menggambarkan betawa mengerikannya situasi di sana. Banyak yang brusaha hidup dengan makan yang ada di sekitarnya. “Keluarga telah hidup dari buah kaktus merah mentah, daun liar dan belalang selama berbulan-bulan,” kata Beasley.

Sementara itu, juru bicara WFP Shelley Thakral mengatakan bahwa “jumlah anak yang dirawat karena malnutrisi akut parah di Grand Sud antara Januari dan Maret adalah empat kali lipat dari rata-rata lima tahun, menurut angka pemerintah terbaru.”

Kondisi ini makin mengkhawatirkan karena bisa jadi lebih buruk. Musim tanam berikutnya kurang dari dua bulan lagi dan perkiraan produksi pangan suram karena tanah tertutup pasir; tidak ada air dan sedikit kemungkinan hujan. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate EmergencyGlobal WarmingMadagaskarPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.