• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Perbankan Indonesia Didorong Investasi di Proyek Smelter Nikel

by Redaksi Asiatoday
September 30, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Mulai Garap Rare Earth, Perkuat Industri Pertahanan

Smelter mineral tambang. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Industri perbankan di Indonesia didorong untuk aktif berinvestasi di industri nikel, dengan jalan membiayai para pengusaha di dalam negeri yang sedang membangun smelter nikel.

Pasalnya, prospek industri nikel Indonesia sangat cerah dan menjanjikan di masa depan.

Menurut Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) RI, Bahlil Lahadalia, selama ini perbankan di dalam negeri belum menunjukkan antusiasme untuk membiayai industri ini, padahal investasi membangun smelter nilainya tidak besar hanya berkisar antara Rp3 triliun atau Rp4 triliun.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

“Ada apa dengan perbankan di Indonesia, padahal bisnis ini sangat menjanjikan. Pengusaha membangun smelter nikel kalau hanya dua tungku bisa sampai Rp3 atau Rp4 triliun. IRRnya, break even pointnya tidak lebih 3 tahun,” ujar Bahlil di CIMB Niaga Forum Indonesia Bangkit, Kamis (29/9/2021).

Bahlil menegaskan, sejauh ini pemerintah sudah mendorong berbagai cara agar para pengusaha tersebut mudah berinvestasi membangun smelter, termasuk dengan memberi berbagai insentif.

“Tax holiday kita kasih, insentif master list kita kasih, tapi perbankan nasional kita tidak ada yang mau membiayai. Andai pun ada minta equitynya antara 40 sampai 50 persen,” jelasnya.

Bahlil memandang, situasi ini tidak adil ketika ada investor dari luar negeri yang berani untuk berinvestasi di Indonesia untuk membangun smelter, seperti dari China.

Harusnya kata dia, perbankan nasional juga mendukung pengusaha dalam negeri yang sedang membangun smelter.

“Pada dasarnya perbankan tidak perlu takut berinvestasi untuk pengolahan nikel, sebab tidak ada satu pun investor smelter nikel yang merugi sampai dengan saat ini. Katakanlah dari China atau dari negara mana yang kita ributkan itu, padahal tidak ada yang melakukan investasi smelter nikel yang rugi, tunjukkan kepada saya, tidak ada,” paparnya.

Menurut Bahlil, ini disebabkan Harga Patokan Mineral (HPM) logam nikel dengan Ni kadar 1,8 persen memiliki harga jauh lebih tinggi di pasar dunia sekitar US$70-80 per metrik ton.

“Di pasar dunia itu, harga nikel US$70-80 sementara di Indonesia hanya US$35 per metrik ton. Maka kita sekarang lagi mendorong untuk melarang ekspor ore nikel dengan menjadikan Indonesia sebagai pusat industri baterai dunia,” tegas Bahlil.

Dilain pihak, 45 persen komponen mobil listrik itu ada pada baterainya yang bahan bakunya sebagian besar ada di Indonesia, yaitu nikel, manganese dan cobalt dan hanya lithium yang tidak ada.

“Indonesia tidak punya Lithium hanya ada di Australia tetapi kita bisa impor. Dengan 25 persen total cadangan nikel dunia itu ada di Indonesia, ini jadi momentum untuk Indonesia bangkit,” tandasnya. (ATN)

Tags: Hilirisasi NikelNikelPerbankan IndonesiaSmelter Feronikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.