• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

REFORMASI WTO: Indonesia Desak Perdagangan Dunia Ganti Haluan

by Redaksi Asiatoday
October 8, 2021
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
REFORMASI WTO: Indonesia Desak Perdagangan Dunia Ganti Haluan

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Muhammad Lutfi menyampaikan gagasan baru dalam forum prestisius Pertemuan Informal Tingkat Menteri (PITM) World Trade Organization (WTO) di Paris, Prancis. Dok Kemendag

ASIATODAY.ID, PARIS – Menteri Perdagangan Republik Indonesia Muhammad Lutfi menyampaikan gagasan baru dalam forum prestisius Pertemuan Informal Tingkat Menteri  (PITM) World  Trade  Organization  (WTO) di Paris, Prancis.

Menurutnya,  selama puluhan tahun, tatanan perdagangan dunia diatur berdasarkan prinsip kompetisi dan efisiensi. Kini saatnya, perdagangan  dunia  berganti  haluan  dengan  mengedepankan  kolaborasi  dan  kerjasama untuk kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia.

Gagasan  baru  Indonesia  ini  disampaikan  sebagai  masukan  penting  untuk  melakukan reformasi di WTO.

RelatedPosts

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Dalam pertemuan PITM di sela pertemuan negara-negara maju Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) itu, Menteri Perdagangan  WTO  bertukar pikiran mengenai agenda-agenda yang dapat menjadi bagian dari reformasi WTO. Beberapa isu yang kerap diangkat yakni  peningkatan  kapasitas  institusi  WTO,  penyelesaian  persoalan  sistem  penyelesaian  sengketa WTO, dan perbaikan sistem pengawasan dan transparansi WTO.

“Setelah puluhan tahun, sistem perdagangan multilateral mampu menggerakkan perdagangan melalui  kompetisi  dan  ekonomi  yang  efisien.  Kini,  masyarakat  dunia  menantikan  tata  aturan perdagangan  yang  berlandaskan  semangat  kerja  sama  dan  kolaboratif  untuk  meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Mendag Lutfi, sebagaimana siaran pers, dikutip Jumat (8/10/2021).

Pertemuan  PITM  WTO  digelar  pada  5  Oktober  2021  lalu  untuk  membangun  konsensus  guna menghasilkan  kesepakatan  yang  konkret  pada  Konferensi  Tingkat  Menteri  (KTM)  ke-12  WTO mendatang  serta  memajukan  agenda reformasi  WTO.  Dalam  kesempatan  ini, Indonesia  juga berkomitmen menjembatani kepentingan negara maju dan negara berkembang.

“Indonesia  akan  berupaya  menjembatani  kepentingan  antara  negara  maju  dan  negara berkembang,  khususnya  perundingan pengabaian perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs),” jelas Mendag Lutfi.

Perjanjian  TRIPS  menyangkut  aspek-aspek  perdagangan  yang  terkait  dengan  Hak  atas  Kekayaan Intelektual.  Perjanjian  ini  berlaku  untuk  semua  anggota WTO.  Secara  garis besar, manfaat untuk Indonesia adalah penegakan hukum terkait perlindungan hak kekayaan intelektual dan memotivasi karya-karya   intelektual   untuk   terus   berinovasi.

TRIPs   juga   dapat   mengurangi   hambatan perdagangan internasional yang terkait dengan hak kekayaan intelektual ini.  Mendag  Lutfi  menambahkan,  perdagangan  tetap  perlu  dijaga  sebab  berperan  sebagai  penggerak bagi pemulihan ekonomi.

“Indonesia juga siap berperan lebih menjadi mediator untuk membantu kesuksesan KTM ke-12 WTO mendatang,” ungkap Mendag Lutfi.

Empat Pembahasan PITM tersebut kali pertama diadakan secara luring pada masa pandemi Covid-19. Pertemuan yang dituan rumahi  Menteri  Perdagangan,  Investasi,  dan  Pariwisata  Australia  Daniel  Thomas  Tehan  ini dihadiri 23 menteri dan perwakilan negara kunci WTO. Diskusi terbagi menjadi empat  pembahasan, yaitu perdagangan dan kesehatan, subsidi perikanan, pertanian, dan reformasi WTO.

Pada isu perdagangan dan kesehatan, mayoritas negara maju mendukung pembahasan isu tersebut sebagai kontribusi sektor perdagangan dan WTO terhadap mitigasi pandemi Covid-19. Kesepakatan pada  isu  perdagangan  dan  kesehatan  akan  menjadi  sinyal  positif  bagi  dunia  internasional  bahwa WTO  dan  sistem  perdagangan  multilateral  masih  dapat berfungsi,  relevan,  dan  kredibel.  Namun, perdebatan masih terjadi pada proposal pengabaian sementara ketentuan TRIPs untuk vaksin, obat, alat kesehatan, dan produk kesehatan bagi penanganan Covid-19.

Pada isu subsidi perikanan, negara anggota WTO pada umumnya cenderung sepakat dengan adanya disiplin mengenai subsidi perikanan dan mengusulkan agar draf teks negosiasi yang  telah disiapkan Ketua  dapat menjadi  basis  perundingan.  Namun,  beberapa  negara  anggota  beranggapan  bahwa teks tersebut belum seimbang karena belum mencakup perlakuan khusus bagi negara berkembang (special   and   differential   treatment/SDT).   SDT   tidak   cukup   hanya   pada   bantuan   teknis   dan pengembangan  kapasitas,  namun  juga  perlu  adanya policy  space bagi  industri  perikanan  dan nelayan tradisional.

Pada   dasarnya,   Indonesia   memiliki   area   perairan   yang   sangat   luas.   Sulit   untuk   melakukan pengawasan kegiatan perikanan yang ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (Illegal, Unreported and   Unregulated/IUU   Fishing)   secara   mumpuni.   Meski   demikian,   Indonesia   bersedia   untuk mengikuti perundingan yang konstruktif.

Pembahasan  isu  pertanian  dibuka  Australia  sebagai  Ketua  PITM  yang  menyoroti  tingkat  subsidi pertanian yang telah berada pada level yang sangat tinggi dalam waktu lama. Di sisi lain, mayoritas negara berkembang  memiliki  kapasitas  terbatas  untuk  mengembangkan sektor pertaniannya.

Negara anggota WTO pada PITM menggarisbawahi perlunya kesamaan pandangan terkait landing zone yang ingin dicapai untuk isu pertanian pada KTM ke-12 WTO. (ATN)

Tags: OECDWorld TradeWTO
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals
  • Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen
  • Bangladesh’s Banking Crisis Deepens as World Bank Unveils $450 Million Rescue Package
  • Indonesia Accelerates Rare Earth Ambitions, Partners with Malaysia in Global Race for Critical Minerals
  • Southeast Asia Faces Refugee Crisis as Aid Shrinks and Human Trafficking Risks Surge
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.