• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Jokowi Tolak Permintaan Negara G20 Agar Buka Keran Ekspor Mineral Mentah

by Redaksi Asiatoday
December 12, 2021
in Business
Reading Time: 1 min read
A A
0
Jokowi Tolak Permintaan Negara G20 Agar Buka Keran Ekspor Mineral Mentah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir saat mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di KTT G20 Italia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Di tengah momentum Presidensi G20 Indonesia, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkap sebuah fakta yang terjadi di KTT G20 Italia, belum lama ini.

Pasalnya, pada KTT tersebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) menolak menandatangani persetujuan melepas rantai pasok (supply chain) sumber daya alam (SDA) kepada sejumlah negara pada pertemuan G20 tersebut.

Menurut Erick, di tengah tekanan supply chain global, negara-negara di dunia justru menyoroti Indonesia karena menyimpan berjuta kekayaan SDA.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Masalah ini yang membuat negara-negara asing menekan Indonesia agar membuka keran ekspor mineral mentah, salah satunya nikel.

“Presiden tegas menolak dan kami Menteri-Menteri pun mendukung untuk menolak,” kata Erick saat Orasi Ilmiah bertajuk di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sabtu (11/12/2021).

Erick Thohir menjelaskan, Covid-19 mempengaruhi ekuilibrium supply chain global sehingga terdistrupsi. Sementara, Indonesia terus menjaga rantai pasok dalam negeri yang hanya diperuntukkan bagi kemajuan ekonomi nasional.

“Karena ini bukan eranya lagi kita melepas SDA kita dipakai untuk pertumbuhan bangsa lain,” katanya.

Sebelumnya, Erick mencatat alasan Presiden menolak menandatangani kesepakatan supply chain karena Indonesia dituntut untuk mengirimkan bahan baku pertambangan nikel sebanyak mungkin kepada negara lain.

“Bapak Presiden tidak mau tanda tangan di G20 waktu mengenai supply chain, (karena) salah satunya kita ditekan industri pertambangan harus dikirim sebanyak-banyaknya ke negara lain,” ungkap Erick.

Pemerintah memandang, ekspor bahan baku pertambangan nikel hanya akan menumbuhkan ekonomi negara lain. Meski mengaku tidak anti-asing, namun sumber daya alam harus dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dalam negeri.

“Kita tidak anti-asing, tetapi sudah sewajarnya sumber daya alam kita dipakai untuk pertumbuhan ekonomi kita yang sebesar-besarnya. Market kita harus dipakai untuk pertumbuhan ekonomi bangsa kita sebesar-besarnya,” tandasnya. (ATN)

Tags: Hilirisasi MinerbaHilirisasi Nikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.