• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Pertumbuhan Ekonomi China Diproyeksi Melemah

by Redaksi Asiatoday
January 3, 2023
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ekonomi Melambat, Developer Properti China Gulung Tikar

Properti di China. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi China diproyeksi akan lesu.

Pasalnya, sektor manufaktur, jasa, dan properti China diperkirakan melemah pada kuartal IV/2022 akibat pandemi Covid-19, yang mengakibatkan potensi kontraksi pertumbuhan ekonomi. Hal ini sejalan dengan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa tekanan ekonomi akan semakin berat pada tahun 2023, yang berujung pada resesi global.

Laporan Bloomberg pada Selasa (3/1/2023), China Beige Book International (CBBI) menunjukkan indeks yang mengukur laba, penjualan, dan lapangan kerja di sektor manufaktur dan jasa merosot pada kuartal IV/2022 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Selain itu, indeks metrik untuk sektor properti, termasuk transaksi dan harga, bahkan jatuh mendekati posisi terendah sepanjang masa.

Adapun indeks ini didasarkan pada survei terhadap 4.354 bisnis. Angka tersebut menyiratkan bahwa produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan mengalami kontraksi pada kuartal IV/2022 dan hanya tumbuh 2 persen sepanjang tahun 2022.

Perkiraan tersebut bahkan lebih rendah dari median proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 2,9 persen pada kuartal IV/ 2022 dan mencapai 3 persen untuk tahun 2022.

“Dengan lonjakan kasus Covid-19 yang sedang terjadi, investasi anjlok ke level terendah dalam 10 kuartal terakhir dan pesanan baru terus tertekan, pemulihan di kuartal pertama semakin tidak realistis,” ungkap Kepala ekonom CBBI Derek Scissors.

Pencabutan pembatasan Covid-19 secara tiba-tiba oleh China pada awal Desember telah memicu lonjakan infeksi di seluruh negeri, bahkan menambah lebih banyak ketidakpastian pada prospek ekonomi. Pembukaan kembali aktivitas ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan juga diperkirakan mengganggu aktivitas ekonomi pada kuartal I/2023, meskipun beberapa ekonom memperkirakan adanya kemungkinan peningkatan pemulihan yang lebih cepat setelah gelombang infeksi mencapai puncaknya.

Indikator minggu lalu menunjukkan tanda-tanda awal rebound dalam aktivitas di kota-kota seperti China, di mana infeksi kemungkinan sudah mencapai puncaknya. CBBI menunjukkan bisnis tetap dalam kesulitan pada kuartal IV/2022.

Perusahaan memperoleh 46 persen pinjaman dari lembaga nonbank dalam tiga bulan terakhir tahun 2022, naik dari 33 persen pada kuartal III/2022. Kenaikan pinjaman ke sektor yang disebut perbankan bayangan tersebut menunjukkan perusahaan-perusahaan kesulitan memenuhi syarat kredit perbankan.

Proyeksi ekonomi ini sejalan dengan pernyataan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva bahwa ekonomi global menghadapi tahun yang sulit pada 2023 akibat ancaman resesi.

“Kami perkirakan sepertiga ekonomi dunia akan mengalami resesi,” kata Georgieva dalam acara ‘Face the Nation’ di CBS seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (2/1/2023).

Dalam proyeksinya ini, Kristalina menyebut perlambatan ekonomi di China sebagai salah satu penyebab resesi global, selain Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Kristalina mengatakan China menghadapi tahun yang sulit. Hal tersebut terjadi lantaran pemerintahan Xi Jinping masih belum dapat mengatasi gelombang pandemi Covid-19.

“Itu diterjemahkan menjadi tren negatif secara global. Ketika kita melihat pasar negara berkembang atau emerging market, di sana, gambarannya bahkan lebih mengerikan,” tandasnya. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: ChinaPertumbuhan AsiaPertumbuhan Ekonomi
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.