• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia Ajak Australia Satukan Nikel dan Lithium

by Redaksi Asiatoday
March 3, 2023
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
UN Global Compact Sinergikan Belt Road Initiative (BRI) dengan SDGs 2030

Menteri Koordinator Perekonomian RI, Airlangga Hartarto. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA –  Kemitraan Indonesia dan Australia memainkan peran strategis dalam memperkuat industri kendaraan listrik.

Indonesia sendiri merupakan produsen utama bijih nikel yang merupakan komponen inti baterai, sedangkan Australia merupakan mitra penting bagi Indonesia sebagai pemasok utama lithium yang merupakan komponen utama baterai listrik.

“Kami berharap kemitraan kita (Indonesia-Australia) dapat meningkatkan daya saing negara kita,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto secara virtual dalam pertemuan Round Table Discussion : Indonesia & Australia Trade and Investment Initiative yang diselenggarakan oleh BDO Indonesia, Rabu (1/3/2023).

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Australia telah menjadi mitra strategis Indonesia. Pada tahun 2022, investasi Australia di Indonesia menyumbang sekitar US$524 juta yang berperan penting dalam menciptakan industri dan lapangan kerja. Sementara itu, total perdagangan Indonesia-Australia pada tahun 2022 mencapai US$13,3 miliar atau tumbuh 9,1 persen selama lima tahun terakhir.

Untuk memperluas akses pasar, Indonesia akan melanjutkan kerja sama perdagangan melalui Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA). Kemitraan ini diharapkan meningkatkan nilai perdagangan kedua negara.

Selain itu, pada tahun 2022, Indonesia dan 14 negara lainnya, termasuk Australia, berkolaborasi melalui forum Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) for Prosperity yang berfokus pada trade, supply chain, clean economy, and fair economy.

Menurut Airlangga, perdagangan dan investasi antar kedua negara masih sangat potensial untuk ditingkatkan dan memiliki ruang untuk berkembang.

Untuk itu, Indonesia mendorong Australia untuk lebih mengeksplorasi Indonesia sebagai tujuan investasi dan perdagangan Australia.

“Kita harus memperkuat kemitraan ekonomi kita. Indonesia akan tetap teguh dalam mendorong kemitraan dan kerja sama dengan kawasan,” jelas Menko Airlangga.

Ekonomi Indonesia

Lebih jauh Airlangga menjelaskan, perekonomian Indonesia tumbuh impresif di angka 5,3% persen pada tahun 2022 berkat konsumsi yang kuat serta ekspor dan investasi yang berjalan baik.

Selain ekonomi yang tumbuh positif di tengah tantangan global, Indonesia juga menjadi mesin ekonomi utama di Asia Tenggara yang melingkupi 40 persen populasi Asia Tenggara dan 35 persen dari PDB Asia Tenggara. Indonesia juga memiliki lebih dari 270 juta penduduk yang mana 69% persennya merupakan kelompok usia produktif.

“Akses ke Indonesia berarti masuk di salah satu kawasan paling stabil secara politik dan ekonomi di dunia. Investor harus mempertimbangkan Indonesia sebagai pasar, basis produksi, dan pusat ekspor,” imbuhnya.

Airlangga mengatakan, pemerintah optimis namun tetap waspada menyikapi prospek perekonomian tahun 2023. Berbagai kebijakan diterapkan mulai dari pemberhentian kebijakan PPKM yang diharapkan dapat mendorong mobilitas masyarakat dan bergeraknya roda perekonomian, hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, hingga reformasi struktural melalui Undang-Undang Cipta Kerja dan peraturan turunannya yang ditujukan untuk memberi kepastian hukum bagi para pelaku usaha. Terkait implementasi perizinan usaha berbasis risiko melalui Online Single Submission, lebih dari 3,3 juta Nomor Induk Usaha baru telah diterbitkan.

“Kami telah menyiapkan daftar prioritas investasi. Investor yang berinvestasi di industri prioritas berhak mendapatkan insentif fiskal dan nonfiskal. Selanjutnya, kami terus mengoptimalkan Indonesia Investment Authority (INA) sebagai alternatif pembiayaan pembangunan ekonomi,” ungkap Menko Airlangga. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Hilirisasi NikelIndonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership AgreementIndustri Kendaraan ListrikIndustri LithiumKerjasama Indonesia-Australia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.