• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Monday, June 22, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Efek El Nino dan IOD, Indonesia Berisiko Kekeringan

by Redaksi Asiatoday
June 6, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Bencana Kekeringan Mengancam Jakarta dan Banten

Kekeringan di Banten dan Jakarta. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia berisiko mengalami kekeringan akibat dua fenomena alam ekstrem, yakni pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di dua wilayah yakni Samudera Pasifik atau El Nino, serta yang terjadi di Samudera Hindia atau Indian Ocean Dipole (IOD).

“Dua fenomena terjadi bersamaan sebagaimana 2019. Ada kejadian El Nino dan IOD positif, di mana El Nino dikontrol oleh suhu muka air laut di Samudera Pasifik, sedangkan IOD positif dikontrol oleh suhu muka air laut di Samudera Hindia,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Republik Indonesia, Dwikorita Karnawati pada konferensi pers secara daring, Selasa (6/6/2023).

Menurut Dwikorita, peningkatan indeks suhu muka air laut di dua wilayah itu sesuai dengan prediksi yang sebelumnya disampaikan oleh lembaga tersebut.

RelatedPosts

Indonesia Leads Regional Green Alliance Against Cross-Border Pollution

IPB Expert: Nickel Mining in Halmahera Threatens Marine Ecosystems and Coastal Livelihoods

Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives

Akibat dua fenomena yang saling menguatkan tersebut, Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah batas normal dan mengarah ke kondisi kering di beberapa wilayah.

“Keduanya pada saat ini mengarah pada kondisi yang mengakibatkan wilayah Indonesia menjadi lebih kering,” terangnya.

Secara terperinci, BMKG sebelumnya mengamati data SML di Samudera Pasifik. Lembaga itu mencatat bahwa La Nina, kebalikan dari El Nino, telah berakhir pada Februari 2023. Indeks ENSO yang digunakan untuk mengamati fenomena tersebut lalu menunjukkan bahwa Indonesia memasuki fase netral sepanjang Maret-April 2023.

Namun, memasuki Mei hingga Juni 2023, fenomena terkait dengan suhu muka air luar di Pasifik mengalami perubahan yang mengarah ke El Nino. Akibatnya, suhu atau temperatur di wilayah itu meningkat. Sementara itu, peluang menguatnya suhu ke level moderat disebut lebih dari 80 persen.

“Itu suhu atau temperatur anomali di Samudera Pasifik semkain meningkat. Sekarang sudah mencapai angka 0,8 dan sudah dekat dengan 1. Kalau menyentuh angka 1, berarti El Nino moderat,” lanjut Dwikorita.

Adapun yang terjadi di Samudera Hindia, indeks IOD yang diamati BMKG telag mengarah ke fase positif mulai Juni hingga Oktober 2023.

Dalam paparannya, BMKG mencatat bahwa pada Juli-September 2019 lalu, ketika fenomena serupa terjadi, sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa-Bali-NTB-NTT, Kalimantan, dan Papua mengalami curah hujan dengan kategori di bawah normal. Oleh karena itu, Dwikorita memprediksi dampak yang sama bakal terjadi mulai semester II/2023 atau paruh kedua tahun ini.

“Ini dapat berdampak pada semakin berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia selama musim kemarau ini. Bahkan, sebagian wilayah akan mengalami curah hujan dengan kategori di bawah normal atau lebih kering dari kondisi normalnya,” tandasnya. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: El NinoIndian Ocean DipoleKekeringan IndonesiaPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Secures $17 Billion AIIB Commitment as Global Confidence in Its Fiscal Strength Deepens
  • China Throws Full Weight Behind Indonesia’s Debut Panda Bond Plan
  • MotoGP Mandalika Fires Up Indonesia’s Economy, Generates IDR4.96 Trillion Windfall
  • Coal Fraud Fugitive Richard Muljadi Arrested Upon Return from Singapore
  • Indonesia Becomes ASEAN’s Top Rice Producer, Ranks Fourth Globally, FAO Says
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.