• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Dua China Sunda yang Mewarnai Indonesia

by Redaksi Asiatoday
July 19, 2019
in News
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Dua China Sunda yang Mewarnai Indonesia 1

ASIATODAY.ID, JAKARTA, Selain TP Rachmat yang baru saja mendapat doktor kehormatan (honoris causa) dari almamaternya Institut Teknologi Bandung (ITB), China Sunda lainnya yang selalu saya ikuti kisahnya adalah Lim Keng Kie.

TP Rachmat yang perusahaannya menggurita lahir di Majalengka sedangkan Lim Keng Kie kelahiran Kuningan. Keduanya China yang berkarakter, cerdas, rendah hati dan tak lupa dengan negerinya yang telah membesarkannya.

Nah, kali ini saya akan mengulas sedikit tentang kisah Lim Keng Kie yang menetap dan menjadi warga negara Amerika Serikat hingga meninggal 2 Mei 2011.

RelatedPosts

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Bila Anda menonton film Rudy (Habibie & Ainun 2) di sana ada seorang China yang diperankan aktor Ernest Prakasa. Sosok itu memerankan kisah sebenarnya seorang intelektual Indonesia yang merintis dunia penerbangan bersama B.J. Habibie, Lim Keng Kie.

Tapi sayang, Lim Keng Kie harus terusir dari negerinya sendiri dan Habibie juga Indonesia, kehilangan untuk selamanya.
Lim Keng Kie, sejatinya sahabat Habibie saat sama-sama sekolah di sebuah SMA di Bandung, Jawa Barat.

Persahabatan berlanjut saat kuliah di Institut Teknologi Bandung (dulu masih Universitas Indonesia). Lim Keng Kie yang kemudian berganti nama menjadi Kim Leheru usianya lebih tua dari Habibie.

Lim Keng Kie yang asli Sunda karena logat bahasa Sunda-nya sangat kental, juga yang memicu Habibie kelak untuk belajar ke sebuah universitas bergengsi di Jerman, RWTH-Aachen.

Karena Lim Keng Kie inilah, Habibie terbang ke Jerman dengan biaya sendiri karena gagal mendapat beasiswa.

Kisah persahabatan Habibie dan Lim Keng Kie terjalin sampai di Jerman. Lim Keng Kue juga menjadi tempat curhat ketika Habibie muda gundah-gulana. Kim yang tenang dan kalem membuat Habibie merasa nyaman.

Dalam buku Rudy, Kisah Muda yang Visioner (Bentang, 2015) diceritakan, Lim Keng Kie juga seolah menjadi ‘penasihat’ Habibie. Sikapnya yang keras kepala dan merasa paling benar menjadi penghalang Habibie beroleh teman selama di Jerman.

Dan, Lim Keng Kie tidak bosan-bosannya mengingatkan Habibie untuk menekan emosinya dan lebih bersabar.

Kata-kata yang membuat Lim Keng Kie tidak nyaman adalah kebiasaan Habibie menuding orang ‘bodoh’ di depan mukanya. Menurut Lim Keng Kie pernyataan itu membuat malu orang yang ditudingnya.

Yang menarik, Lim Keng Kie juga ternyata bukan hanya penasihat spiritual Habibie tetapi juga penyelamatnya di saat sedang lapar.

Beberapa kali, Lim Keng Kie memberikan bantuan dan pinjaman uang ketika kiriman dari Tanah Air tersendat.

Suatu hari, Lim Keng Kie bertemu Habibie dan mengajaknya untuk makan di sebuah restoran. Seperti biasa, Habibie selalu menolaknya.

“Aku puasa Senin-Kamis,” kata Habibie.

“Ah, sekarang kan hari Rabu,” jawab Lim Keng Kie.

Padahal sebenarnya hanya akal-akalan Habibie karena nggak punya uang untuk bayar makan di restoran.

Lim Keng Kie anak miskin tetapi karena mendapat beasiswa dari pemerintah masih bisa hidup sederhana di luar negeri. Sementara, Habibie dengan biaya sendiri tergantung kiriman biaya dari keluarga di Bandung.

Lim Keng Kie lulus paling duluan dari RWTH-Aachen dan kelak menjadi pendiri Fakultas Teknik Penerbangan di ITB. Sayangnya, Lim Keng Kie tak bisa melanjutkan pengabdiannya di Indonesia.

Karena masalah politik Lim Keng Kie harus terusir dari negeri yang dicintainya. Ini lantaran Lim Keng Kie mengajar di Universitas Trisakti. Kampus yang saat itu didanai Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Baperki ini dituduh Orde Baru sebagai sayap organisasi yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Dan, sekuel inilah yang mungkin paling disesali Habibie. Dia tidak bisa menyelamatkan Lim Keng Kie, sahabat sejatinya. Habibie yang saat itu sudah bekerja di Jerman dan tengah mengambil doktor dihubungi Lim Keng Kie. Sahabatnya itu meminta bantuan Habibie untuk mendapat pekerjaan di Jerman lantaran karier dan keselamatannya terancam di dalam negeri.

Situasi yang dialaminya diceritakan kepada Habibie, termasuk soal koleganya di ITB Mas Kamaludin yang sudah ditangkap pemerintah Orba dan dibuang ke Pulau Buru.

Habibie sudah mendapat dua kontak di Jerman untuk Lim Keng Kie dan salah satunya di tempat perusahaan Habibie bekerja. Tapi surat persetujuan untuk Lim Keng Kie dicoret pihak ITB dan itulah masa yang paling gelap dan menyedihkan. Lim Keng Kie untuk menyelamatkan dirinya dan keluarga akhirnya memilih berimigrasi ke Amerika Serikat.

Kelak, ketika Habibie dilantik menjadi Presiden menggantikan Soeharto orang pertama yang diundang secara resmi ke Istana Kepresidenan adalah Lim Keng Kie bersama istrinya, Hilda.

Habibie beberapa kali membujuk Lim Keng Kie untuk pulang ke Indonesia. Namun lantaran memiliki sejarah pernah mengajar di kampus komunis, Lim Keng Kie menolaknya karena khawatir menodai karier Habibie.

,’;\;\’\’
Tags: BJ HabibieLim Keng KieTP Rachmat
No Result
View All Result

Terbaru

  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.