• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Harga Nikel Kian Lemah, Tertekan Prospek Permintaan

by Redaksi Asiatoday
October 12, 2019
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
HIPMI : Kebijakan Larangan Ekspor Bijih Nikel Harus Dibatalkan

Tambang Nikel di Maluku Utara. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Harga nikel jatuh untuk tiga perdagangan berturut-turut dipicu oleh tanda-tanda melemahnya prospek permintaan logam dari China sebagai konsumen terbesar di dunia meskipun stok cadangan nikel terus terkontraksi.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (9/10/2019) hingga pukul 13.09 WIB, harga nikel di bursa LME bergerak melemah 0,1% menjadi US$17.445 per ton. Adapun, sepanjang tahun berjalan 2019, nikel telah bergerak menguat tajam sebesar 64,39%.

Mengutip riset terbaru Citigroup, premi yang negatif dan arbitrase impor di China akhirnya menjadi bearish terhadap harga nikel di LME, logam dasar yang bekinerja terbaik pada tahun ini di tengah tekanan ketegangan dagang AS dan China.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

“Nikel terlihat semakin mudah untuk mendapatkan paparan sentimen penurunan makro karena fundamental nikel mulai melemah, walaupun risiko berbalik arah masih ada,” tulis Citigroup dalam publikasi risetnya.

Adapun, prospek permintaan logam melemah akibat hubungan AS dan China memburuk menjelang pembicaraan perdagangan tingkat tinggi kedua negara di Washington pada pekan ini.

Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pembatasan visa sehari setelah Departemen Perdagangan AS mengutip perlakuan buruk terhadap Muslim Uighur di China dan memutuskan untuk menambah 20 biro keamanan publik China dan 8 perusahaan teknologi China ke dalam daftar hitam perdagangan.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan bahwa tarif impor China yang sebelumnya telah ditunda akan naik pada 15 Oktober jika tidak ada kemajuan dalam negosiasi perdagangan pekan ini.

Di sisi lain, persediaan nikel di gudang yang dilacak oleh bursa LME kembali turun menjadi 8.166 ton sehingga hanya tersisa sebanyak 117.522 ton pada perdagangan Selasa (8/10/2019). Persediaan tersebut menurun terutama di kawasan Asia dan Belanda dan menjadi persediaan nikel di bursa LME terendah sejak Agustus 2012. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Larangan Ekspor NikelNikelTambang Nikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.