• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

17 Juta Orang di Indonesia Kini Butuh Lapangan Kerja

by Redaksi Asiatoday
August 4, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Hampir 2 Juta Orang di Indonesia Kehilangan Pekerjaan akibat Covid-19

Para karyawan perusahaan swasta yang bekerja di Jakarta sebelum pandemi Covid-19. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pandemi coronavirus (Covid-19) membuat jutaan orang di Indonesia kini dalam kesulitan.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, ada 17 juta orang di Indonesia saat ini sedang membutuhkan pekerjaan.

Jumlah tersebut terdiri dari 7 juta pengangguran, ditambah dengan angkatan kerja setiap tahunnya sebanyak 2,5 juta.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Selain itu, jumlah pencari kerja berasal dari korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19 sebanyak kurang lebih 7 juta hingga 8 juta orang.

“Ada sekitar 16 juta hingga 17 juta orang sekarang yang sedang cari kerja,” kata Bahlil dalam diskusi virtual, Selasa (4/8/2020).

Bahlil memandang, untuk mengatasi problem ini tidak ada cara lain selain mendorong penciptaan lapangan kerja. Karena itu, investasi menjadi pintu bagi penciptaan lapangan kerja baru.

Bahlil menegaskan, BKPM tak tebang pilih untuk jenis investasi yang masuk ke Indonesia, sepanjang itu sesuai dengan persyaratan pemerintah dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi penduduk Indonesia.

“Sebelum ada pandemi, kami masih pilih-pilih investasi, sekarang dengan adanya Covid-19 ini yang penting investasi masuk, lapangan pekerjaannya bisa tercipta. Rumusnya 17 juta itu harus terserap,” jelasnya.

Ke depan kata Bahlil, pemerintah akan fokus pada lima sektor guna mendorong investasi seperti investasi alat kesehatan, sektor energi, pertambangan, manufaktur dan teknologi.

“Untuk investasi ke depan berorientasi pada nilai tambah. Demokrasi ekonomi dan investasi inklusif adalah suatu keharusan,” tegasnya.

Sebagai referensi, sepanjang semester I 2020 realisasi investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp402,6 triliun atau 49,3 persen dari target. Hingga akhir tahun, BKPM menargetkan investasi yang masuk senilai Rp817,2 triliun.

Realisasi investasi pada enam bulan pertama 2020 itu terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp207 triliun atau 51,4 persen dari target dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp195,6 triliun atau 48,6 persen dari target. Realisasi PMDN naik 13,2 persen, sedangkan PMA turun 8,1 persen. (ATN)

Tags: BKPMPengangguran
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.