ASIATODAY.ID, JAKARTA – Donald Trump dan Joe Biden masih bertarung untuk menentukan siapa yang terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) periode 2020-2024.
China berharap siapapun presiden AS terpilih, tidak menggaungkan sikap bermusuhan.
Menyitat Global Times, Sabtu (7/11/2020) Menteri Luar Negeri China Le Yucheng berharap pemerintahan AS nantinya menjunjung semangat non-konflik, non-konfrontasi, serta win-win solution.
Hal tersebut menurut dia akan turut mendorong pengembangan hubungan China-AS ke jalur yang benar.
Le mengucapkan itu semua dalam konferensi media pada Pertemuan Dewan Kepala Negara Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) ke-20 yang dihelat Kamis (5/11).
Pernyataan itu terlontar sebagai tanggapan atas Pilpres AS dan prediksi hubungan kedua negara ke depan.
Menyrut Le, China dan AS jelas memiliki perbedaan dalam berbagai bidang. Namun ada beberapa kepentingan serupa.
Di tengah keruhnya hubungan kedua negara beberapa tahun terakhir, Le berharap agar pemimpin yang terpilih bisa segera memperbaiki hal tersebut.
Le tidak secara gamblang mengungkapkan kepada siapa China memberikan dukungan dalam Pilpres AS kali ini.
Namun sebagaimana diketahui, saat Trump memimpin, hubungan AS dan China disebut jatuh ke dalam titik terendah.
Lewat berbagai kebijakan, Trump kerap membuat China marah. Contohnya dengan menjual senjata ke Taiwan.
Pemerintah China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun memiliki pemerintahan sendiri sejak berakhirnya perang saudara pada tahun 1949.
Kesepakatan yang tengah dan telah dilakukan antara AS-Taiwan dianggap China akan mengganggu prinsip “satu China”.
Selain keruh soal Taiwan, AS di bawah Trump cukup aktif melakukan konfrontasi di Laut China Selatan.
Laut China Selatan menjadi perairan rawan konflik setelah Beijing mengklaim hampir 90 persen wilayah di perairan itu. Klaim China tersebut tumpang tindih dengan wilayah perairan dan ZEE sejumlah negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam,Malaysia, dan Brunei.
Indonesia sendiri menegaskan tidak memiliki sengketa dengan China di Laut China Selatan. Namun, aktivitas sejumlah kapal ikan dan patroli China di ZEE Indonesia di sekitar Natuna semakin membuat khawatir Jakarta.
Sementara itu, pemimpin Hong Kong Carrie Lam berharap siapapun yang memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat, tidak akan mengganggu isu politik di Hong Kong.
“Kepada siapapun (yang memimpin) pemerintahan di Amerika Serikat (AS) nanti, saya ingin mengajukan seruan ini, bahwa setiap negara, setiap pemerintah harus menghormati yurisdiksi negara lain dan wilayah lain,” katanya, dikutip dari Associated Press, Sabtu (7/11/2020).
“Kami akan senang jika hubungan yang sangat solid dan saling menghormati ini terus berlanjut terlepas dari administrasi mana. Saya tidak ingin terlibat dalam politik Amerika,” lanjutnya.
Hal tersebut diungkap bersamaan dengan sindiran bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump kerap mencampuri urusan domestik negaranya.
Lam pun mengecam tindakan AS yang kerap membatalkan perjanjian bilateral secara sepihak sebagai sanksi kepada pemerintahannya.
“Dalam beberapa tahun ke belakang, pemerintah dan pejabat Amerika berulang kali mencampuri urusan internal warga China dan Hong Kong. Ini sangat tidak masuk akal dan tidak bisa dibenarkan dalam hubungan internal,” ujarnya.
Seiring menanti hasil pilpres AS, Lam berharap presiden dan wakil presiden yang terpilih akan membangun hubungan bilateral yang saling menghormati.
Ia menekankan Hong Kong telah pulih dan kembali stabil setelah sejumlah insiden kekerasan mencuat dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya ini membuktikan bahwa UU Keamanan Nasional yang mulai berlaku tahun ini efektif memberikan efek jera kepada masyarakat.
“Tujuan keputusan China dengan UU Keamanan Nasional Hong Kong dalam UU ini adalah untuk mencegah dan menghentikan, serta menghukum. Jadi pencegahan juga sangat penting,” jelasnya. (ATN)
