• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

46 Persen Sungai di Indonesia Tercemar Berat

by Redaksi Asiatoday
October 23, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Tekan Emisi Karbon, Indonesia Bangun Pusat Daur Ulang Sampah di Citarum

Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pencemaran lingkungan terhadap sungai-sungai di Indonesia kian mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 46 persen sungai di Indonesia dalam keadaan status tercemar berat, 32 persen tercemar sedang berat, 14 persen tercemar sedang dan 8 persen tercemar ringan.

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pencemaran sungai disebabkan oleh berbagai faktor.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Peningkatan pertumbuhan penduduk dan percepatan ekonomi berdampak pada perairan darat (sungai). Pencemaran dan perubahan habitat di sekitar perairan mengakibatkan kerusakan ekosistem.

“Kita perlu mengembangkan suatu metode fisika, kimia, dan biologi untuk mengetahui kondisi perairan. Salah satunya dengan penggunaan organisme dalam studi toksisitas polutan di perairan,” kata Ocky Karna Rajasa, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, dikutip dalam keterangan, Jumat (23/10/2020).

Ocky mengatakan, pemulihan kondisi perairan darat tidak hanya berorientasi pada pemenuhan vital manusia, tetapi juga berorientasi pada menjaga ekologi dan kesehatan ekosistem yang berkelanjutan.

“Pemanfaatan ecological tool atau perangkat ekologis dalam penilaian kesehatan perairan darat dapat dikaji dan dikembangkan lebih lanjut  karena  Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi,” jelasnya.

Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Jojok Sudarso, mengatakan, penilaian kesehatan ekosistem sungai dengan indikator makrozoobentos mempunyai kelebihan dibandingkan ikan, perifiton, plankton dan bakteri.

“Tingkat mobilitas yang rendah menyebabkan makrozoobentos mudah mencerminkan kondisi kualitas perairan setempat. Selain itu, jumlah yang berlimpah di alam dan distribusi yang luas membuat oraganisme tersebut mudah di-sampling,” jelasnya.

“Indikator makrozoobentos penting digunakan untuk pemantauan kualitas ekosistem sungai karena merupakan komponen penting dalam rantai makanan,” tambahnya.

Lebih jauh Jojok memaparkan, bioindikator merupakan alat untuk mengetahui dampak dari perubahan lingkungan sebelum dampak yang lebih besar terjadi maupun evaluasi untuk keberhasilan program pengelolaan lingkungan.

“Pengembangan bioindikator perlu disesuaikan dengan kondisi ecoregion setempat dan perlu integrasi dengan pengukuran kimia, fisika, dalam pengendalian dan pencegahan kerusakan ekosistem akuatik,” imbuh Jojok.

Pada kesempatan yang sama, Gunawan Pratama Yoga, Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, menjelaskan, kajian toksisitas bahan pencemar terhadap biota perairan darat penting dilakukan untuk menilai resiko keberadaan pencemar sumber daya hayati perairan darat.

“Melalui kajian toksisitas dapat diketahui nilai ambang batas suatu bahan pencemar yang dapat ditolerir oleh biota perairan darat,” tutur Yoga.

“Kajian toksisitas terhadap biota-biota endemik di Indonesia penting dilakukan untuk mengetahui tingkat toleransinya dalam menerima beban pencemar yang semakin tinggi di perairan darat Indonesia, sehingga kelestariannya dapat terjaga,” pungkas Yoga. (ATN)

Tags: Konservasi SungaiLIPIPencemaran SungaiSungai Tercemar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.