• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Sunday, June 7, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

AS akan Tutup Pusat Kebudayaan China di Seluruh Kampus

by Redaksi Asiatoday
September 2, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
AS akan Tutup Pusat Kebudayaan China di Seluruh Kampus

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo. Foto: Kedubes AS

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Konflik antara Amerika Serikat dan China kini memasuki babak baru.

Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan menutup pusat kebudayaan Institut Konfusius China di seluruh perguruan tinggi di Amerika pada akhir tahun 2020.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan, pusat kebudayaan China yang ada di kampus AS dapat membahayakan keamanan nasional.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Pompeo menuding pusat budaya yang didanai oleh pemerintah China itu merekrut “mata-mata dan kolaborator” di perguruan tinggi AS.

Pompeo mengatakan, keberadaan pusat budaya China dapat menimbulkan risiko besar terhadap keamanan kampus.

“Saya pikir lembaga-lembaga ini dapat melihat itu, dan saya berharap kita akan menutup semuanya sebelum akhir tahun ini,” ujar Pompeo, dikutip Reuters, Rabu (2/9/2020).

Bulan lalu, Pompeo menandai pusat budaya Institut Konfusius di AS sebagai entitas yang memajukan propaganda global dan pengaruh jahat Beijing.

Diplomat AS untuk Asia Timur, David Stilwell mengatakan, seluruh perguruan tinggi AS harus mencermati kegiatan institut tersebut di dalam kampus.

Ketegangan antara AS dan China dikhawatirkan dapat menjadi Perang Dingin baru.

Menanggapi analogi tersebut, Pompeo mengatakan, analogi Perang Dingin memiliki relevansi tetapi tantangan dengan China sangat berbeda.

“Ini berbeda dengan Perang Dingin di mana kita ditantang oleh negara dengan 1,4 miliar orang. Tantangannya berbeda, ini tantangan ekonomi,” ujar Pompeo.

Sejak Donald Trump menjabat sebagai presiden, hubungan antara AS dan China tidak berjalan mulus. AS mulai melancarkan perang dagang terhadap China dengan memberikan pajak impor terhadap barang-barang dari China. Tak mau kalah, China juga membalas tindakan AS tersebut.

Perseteruan kedua negara merambat ke persoalan lainnya, mulai dari pertahanan, persoalan undang-undang keamanan yang diberlakukan di Hong Kong, hingga pandemi virus corona.

AS menuding China tidak transparan dalam memberikan informasi tentang virus corona, sehingga dapat menyebar ke seluruh dunia dan menimbulkan resesi ekonomi di sejumlah negara. (ATN)

Tags: Amerika SerikatChina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesian Cooperatives Minister Backs Cooperative-Led Sugarcane Downstreaming
  • Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange
  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.