• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

AS Konsolidasi di Asia Tenggara untuk Tutup Ruang Gerak Militer China

by Redaksi Asiatoday
August 1, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
AS Konsolidasi di Asia Tenggara untuk Tutup Ruang Gerak Militer China

Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin. Dok Pentagon

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kian masif membangun konsolidasi di Asia Tenggara dalam upaya menutup ruang gerak militer China.

Untuk menjalankan misi itu, Presiden AS Joe Biden telah mengutus Menteri Pertahanan Lloyd Austin untuk bertemu sejumlah petinggi di kawasan ASEAN.

Austin selama pidato, Selasa (27/7/2021) di Singapura, ia menyerukan pengurangan aktivitas militer China di Asia Tenggara melalui “pencegahan terpadu”. Austin juga melakukan pertemuan di Filipina dan Vietnam selama seminggu lawatannya.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Pencegahan terpadu berarti menggunakan “setiap alat militer dan non-militer selaras dengan sekutu dan mitra,” kata Departemen Pertahanan AS di situs webnya, dikutip Minggu (01/08/2021).

Para ahli mengatakan Austin memilih Vietnam dan Filipina karena keduanya bertikai dengan China selama dekade terakhir terkait klaim kedaulatan yang diperebutkan di Laut China Selatan.

AS memandang klaim China pada sebagian besar wilayah laut itu tidak memiliki dasar dalam hukum internasional dan itu adalah ilegal.

“Ini bukan kebetulan,” kata Eduardo Araral, profesor di sekolah kebijakan publik Universitas Nasional Singapura.

“AS baru saja menyelesaikan strateginya untuk China. Inti dari strategi ini adalah mendapatkan lebih banyak sekutu, jadi masuk akal perjalanan pertama ke Asia adalah Asia Tenggara karena negara-negara ini akan memainkan beberapa peran penting,” jelasnya.

Didukung oleh militer terkuat di Asia, China telah menimbun dengan pasir dan semen di atas karang pulau-pulau kecil di laut seluas 3,5 juta kilometer persegi antara Hong Kong dan Kalimantan untuk penggunaan militer. Secara berkala China mengirimkan kapal ke zona ekonomi eksklusif negara pengklaim lainnya.

Brunei, Malaysia dan Taiwan menyebut semua atau sebagian dari jalur perairan yang sama adalah milik mereka. Ketiga negara bersahabat dengan AS, meskipun mereka juga ingin bekerja sama dengan China secara ekonomi.

Pemerintah AS tidak memiliki klaim di laut Asia tetapi memandang China sebagai saingan geopolitik yang mengancam negara-negara mitranya. (ATN)

Tags: ASEAN-Amerika SerikatIndo PasifikLaut China Selatan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.