• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

AS Tuntut China Tanggung Jawab Atas Instabilitas di Indo Pasifik dan Selat Taiwan

by Redaksi Asiatoday
February 6, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
AS Desak Militer Myanmar Bebaskan Aung San Suu Kyi

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken. Dok

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) yang kini dipimpin oleh Joe Biden kembali memanaskan konfrontasi dengan China.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan bahwa Amerika Serikat akan membela hak asasi manusia dan nilai-nilai demokrasi di Xinjiang, Tibet dan Hong Kong.

Pernyataan itu disampaikan Blinken saat berbicara melalui telepon dengan diplomat tinggi China Yang Jiechi pada Jumat (5/2). Blinken juga menekan China agar tidak melegitimasi kudeta militer di Myanmar.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Blinken menegaskan kembali bahwa Washington akan bekerja dengan sekutu untuk meminta pertanggungjawaban China atas upaya yang mengancam stabilitas Indo-Pasifik, termasuk di seberang Selat Taiwan.

Namun Yang Jiechi mengatakan kepada Blinken bahwa Amerika Serikat harus “memperbaiki” kesalahannya baru-baru ini. Kedua belah pihak harus saling menghormati sistem politik dan jalur pembangunan satu sama lain.

Hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia mencapai titik terendah dalam beberapa dekade selama kepresidenan Donald Trump.

Para pejabat China telah menyatakan optimisme yang hati-hati bahwa hubungan itu akan membaik di bawah pemerintahan Joe Biden.

Yang Jiechi mengatakan pada sebuah forum yang digelar secara daring pada Selasa (2/2) bahwa dia berharap hubungan antara kedua negara dapat kembali ke jalur yang konstruktif.

Tetapi, dia meminta Amerika Serikat untuk “berhenti mencampuri” masalah kedaulatan China, termasuk atas Xinjiang, Hong Kong, dan Tibet.

Juru bicara Kemlu China Wang Wenbin juga mengatakan pada Jumat bahwa kepentingan bersama kedua negara lebih besar daripada perbedaan mereka.

Dia mendesak AS untuk bertemu dengan China di tengah jalan demi meningkatkan hubungan. Namun, kritik terhadap catatan hak asasi manusia China terus berlanjut.

Deplu AS mengatakan pada Kamis (4/2) bahwa AS sangat terganggu oleh laporan pelecehan seksual terhadap wanita di kamp-kamp pengasingan untuk etnis Uighur dan Muslim lainnya di Xinjiang.

Presiden Joe Biden tidak terlihat ingin cepat-cepat berhubungan dengan Beijing. Ia pada Kamis menggambarkan China sebagai “pesaing terbesar AS”.

Biden mengatakan Washington akan terus menghadapi serangan China terhadap hak asasi manusia, kekayaan intelektual, dan pemerintahan global.

“Tapi kami siap bekerja dengan Beijing, jika Amerika berkepentingan untuk melakukannya,” tambah Biden.

The Global Times, sebuah tabloid yang dikelola oleh surat kabar Partai Komunis China,  People’s Daily, menuliskan dalam sebuah editorial pada Sabtu (5/2) bahwa mereka memperkirakan pemerintahan Biden akan terus berbicara lantang sambil meningkatkan kerja sama di beberapa bidang.

“Ini jelas berbeda dari periode pemerintahan Trump, yang hanya meningkatkan pertentangan antara China dan AS,” katanya. (Reuters/Ant)

Tags: Indo Pasifik
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.