• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Atasi Kesenjangan Digital, ADB Dorong ASEAN Perkuat Investasi

by Redaksi Asiatoday
October 21, 2020
in Business
Reading Time: 4 mins read
A A
0
ADB: Pandemi Global Coronavirus Kian  Menggerus Ekonomi di Asia Timur

Markas Asian Development Bank (ADB). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) mendorong negara-negara di Asia Tenggara untuk memperluas investasi infrastruktur digital seiring upaya pemulihan dari pandemi Covid-19. ADB juga berharap adanya kepastian akses yang adil terhadap teknologi.

Menurut Presiden ADB Masatsugu Asakawa, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai dua poin tersebut, diantaranya, membangun lebih banyak jaringan pita lebar dengan kualitas lebih tinggi serta memastikan akses dan cakupan internet dengan harga terjangkau.

Masatsugu menjelaskan, langkah-langkah tersebut juga dapat meningkatkan akses ke layanan sosial dasar, seperti kesehatan dan pendidikan, serta akses ke layanan keuangan.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

“Investasi semacam itu akan membuat negara-negara lebih siap untuk mengatasi ketimpangan pendapatan dan disparitas peluang akibat pandemi,” ujarnya dalam pidato utama pada Simposium Pembangunan Asia Tenggara (Southeast Asia Development Symposium) secara virtual, Rabu (21/10/2020).

Poin itu menjadi satu dari lima bidang kebijakan penting yang disebutkan Masatsugu sebagai kebijakan penting untuk mendukung perekonomian negara berkembang di Asia Tenggara. Langkah ini dinilainya dapat membantu negara kembali ke jalur Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Simposium Pembangunan Asia Tenggara bertujuan memberikan beragam perspektif terbaru kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan lain tentang sejumlah persoalan pembangunan yang sangat penting.

Sejalan dengan upaya negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk merespons Covid-19, simposium pertama ini berfokus untuk memberi dukungan pengetahuan dalam penanganan dampak ekonomi dan sosial akibat pandemi.

Selain menyoroti kesenjangan digital, Masatsugu juga menekankan pentingnya memfasilitasi pemulihan ekonomi hijau, dengan mendorong investasi yang menggerakan kegiatan perekonomian menuju praktik-praktik rendah karbon dan berdaya tahan.

Kebijakan penting berikutnya, memperkuat kerja sama dan integrasi regional dengan meningkatkan konektivitas digital lintas batas negara, sistem pabean elektronik (e-customs), dan sistem pelacakan kargo elektronik.

Selain itu, Masatsugu menuturkan penting untuk memperdalam kapasitas kelembagaan untuk memobilisasi sumber daya domestik. “Ini guna membiayai layanan publik, sambil memastikan keberlanjutan utang,” ujarnya.

Terakhir, menginkubasi, mengembangkan, dan mengumpulkan usaha kecil dan menengah (UKM) dengan kewirausahaan dan teknologi. Hal ini harus didukung oleh ekosistem keuangan, akademis, dan dunia usaha yang disatukan guna membantu menyiapkan pertumbuhan berbasis teknologi.

Dalam penutupnya, Masatsugu mengungkapkan optimismenya terhadap teknologi digital yang bisa menjadi kunci dalam pemulihan Asia Tenggara dari pandemi Covid-19.

“Mari kita lakukan upaya-upaya untuk mengarusutamakan penggunaan teknologi digital lintas sektor,” imbuhnya.

Tantangan Transformasi Digital di Indonesia

Secara terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pandemi Covid-19 yang menyebabkan perekonomian terpukul menunjukkan pentingnya penerapan dan transformasi teknologi.

Untuk menahan laju penularan Covid-19, penerapan pembatasan sosial harus diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia. Hal ini membuat mobilitas masyarakat dan aktivitas dunia usaha terhenti.

Namun demikian, aktivitas bisnis yang berhasil menerapkan digitalisasi akan mampu bertahan di masa pandemi ini. Pandemi Covid-19 pun telah memaksa akselerasi transformasi digital.

Merujuk pada penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), hanya 1 dari 5 usaha yang bisa beralih ke usaha berbasis teknologi, sementara sisanya tidak bisa beralih.

Menurut Sri Mulyani, hal ini masih menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan untuk bagaimana meresponi peluang dari penerapan teknologi baru, juga mengatisipasi risiko dari teknologi baru tersebut.

“Untuk mendukung digitalisasi, kita perlu memperhatikan empat usaha yang tidak bisa beralih ke basis teknologi dan menyediakan platform untuk mengimbangi transformasi ini,” katanya dalam video conference Southeast Asia Development Symposium (SEADS), Rabu (21/10/2020).

Dia menyampaikan, meski terjadi akselerasi digitalisasi, akses internet masih tergolong barang mewah bagi sebagian orang dan wilayah. Hal ini juga mempengaruhi keberhasilan dari penerapan pelayanan publik.

Sri Mulyani mencontohkan pemerintah telah mengakomodasi sekolah jarak jauh secara daring yang mulai diterapkan sejak awal pandemi merebak di Indonesia, namun tidak semua siswa memiliki akses internet.

Demikian juga dengan dunia usaha, banyak usaha mikro dan kecil, terutama di daerah terpencil belum bisa mengakses teknologi tersebut karena adanya kesenjangan akses internet.

“Ini masalah yang masih kita hadapi di negara-negara ASEAN. Di satu sisi kita harus mengambil peluang di momentum krisis ini, tapi kita juga harus bekerja keras mengisi kesenjangan ini,” tuturnya.

Pemerintah Indonesia kata Sri Mulyani, telah mengupayakan mengatasi kesenjangan ini, misalnya dengan pemberian subsidi listrik untuk 40 persen penduduk terbawah dan menyediakan internet gratis untuk siswa, guru, serta pendidikan tinggi.

Selain itu, pemerintah juga mendukung transisi usaha mikro dan kecil dalam mengimplementasikan transformasi digital agar usaha-usaha tersebut bisa beradaptasi dengan model bisnis baru.

Pemerintah pun mengembangkan banyak inisiatif untuk memanfaatkan peluang digitalisasi ini. Melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, pemerintah telah meluncurkan gerakan 1.000 start-up yang mendorong pembentukan start-up baru berbasis TI hingga 2024.

Sri Mulyani menambahkan, pemerintah juga mendukung penuh pengembangan unicorn dan decacorn melalui program pengembangan SDM sejalan dengan pengembangan infrastruktur. (ATN)

Tags: ADBIndustri DigitalTransformasi Digital
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.