ASIATODAY.ID, BALI – Industri Kakao fermentasi di Bali kian diterima di pasar ekspor.
Yang terbaru, 10 ton Kakao fermentasi produksi Jembrana diekspor ke Osaka Jepang, Kamis (20/8/2020).
Ditargetkan, pengolahan Kakao fermentasi di Jembrana mencapai 1.000 ton dan untuk kebutuhan pasar ekspor sebanyak 600 ton.
“Produksi Kakao di Bali cukup menggembirakan. Tahun ini saja, total produksi Kakao di Bali mencapai 4.849 ton,” terang Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana, melalui keterangan tertulisnya, Jumat (21/8/2020).
Saat ini biji Kakao asal Jembrana memiliki harga yang spesifik, berkisar Rp58.000 hingga Rp60.000 per kilogram dan ini merupakan harga Kakao fermentasi termahal di Indonesia.
Selain Kakao, Jembrana juga memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan komoditas perkebunan seperti kelapa, cengkeh dan vanili.
“Jembrana memiliki luasan kebun Kakao terbesar di Bali mencapai 43,25 persen sekaligus merupakan kabupaten yang memiliki konsen untuk mewujudkan Kakao fermentasi,” jelasnya.
Gubenur Bali I Wayan Koster mengapresiasi ekspor biji Kakao fermentasi Bali.
Untuk menjaga potensi Kakao agar tetap lestari dan memberikan manfaat secara ekonomi kepada petani, Pemerintah mengalokasikan bantuan tanaman Kakao sebanyak 100.000 pohon dengan luas 100 heltare yang disebarkan sebanyak 10.000 pohon kepada Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen.
Kemudian, bantuan alat pascapanen Kakao yang berlokasi di Unit Pengolahan Hasil Amerta Urip, Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen berupa bangunan pengolah hasil, unit pengering solar drayer, dan kotak fermentasi serta timbangan duduk. (ATN)
