• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Bangun Industri Baterai, Morowali Diguyur Investasi Rp55 Triliun

by Redaksi Asiatoday
August 29, 2019
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Indonesia Fokus Hilirisasi Industri Minerba dan CPO

Indonesian Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan komitmen berbagai investor yang ingin masuk untuk mengembangkan industri baterai di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah saat ini sudah mencapai US$4 miliar atau Rp55,8 triliun. Komitmen itu datang dari perusahaan asing, seperti Contemporary Amperex Technology (CATL), LG Chem, Volkswagen, Mercedes, Tesla, dan lainnya.

“Mereka mau masuk investasi sampai US$4 miliar. Saat ini yang sudah ada yang mulai investasi nilanya sekitar US$1 miliar. Itu yang sudah groundbreaking,” terang Luhut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Hanya saja Luhut belum merinci nominal investasi yang diberikan oleh masing-masing perusahaan itu. Begitu pula dengan peta waktu terkait rencana pembangunan industri baterai dari tiap perusahaan.

RelatedPosts

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

Namun, Luhut menekankan masuknya para perusahaan asing ke dalam negeri untuk berinvestasi sejatinya merupakan hal yang wajar dan positif. Sebab, pemerintah serius mengembangkan Morowali sebagai pusat industri baterai.

“Mungkin porsinya sedikit-sedikit, tapi mereka masuk karena mereka melihat bahan baterai itu banyak di Indonesia,” terangnya.

Luhut mengklaim, pabrik bahan baku baterai lithium di kawasan IMIP akan menjadi pabrik bahan baku baterai terbesar di dunia. Pasalnya, seluruh proses akan terintegrasi di kawasan tersebut.

Pabrik tersebut merupakan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel yang bisa memproduksi 50 ribu ton per tahun. Kemudian, di dalam pabrik juga akan dibangun fasilitas pengolahan dan pemurnian hydroxites dan kobalt sebesar 4.000 ton per tahun.

Luhut menjamin investor yang masuk tidak sembarangan karena harus mengikuti aturan main di Indonesia. Disebutkan Luhut, pabrik yang dibangun setidaknya memenuhi empat kriteria yaitu, ramah lingkungan, ada alih teknologi, melibatkan tenaga kerja lokal dan memberikan nilai tambah. Targetnya, dalam kurun tiga tahun kedepan, industri tersebut sudah mulai operasi.

Luhut pun meminta agar sentimen negatif di Morowali dihilangkan karena konsorsium investor pendiiri pabrik baterai lithium di Morowali adalah LG, CATL, Volkswagen, Tesla hingga Mercedes, dan lainnya.

“Jadi jangan dikira sekarang Morowali itu china-china saja. Tidak ada urusan China itu sekarang, urusan sudah konsorsium. Kalau pikiran saya, saya akan dorong mereka seperti Grab. Grab sudah saya bilang, kalian harus pindah markas ke Indonesia,” ungkap Luhut.

Terkait penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) Kendaraan Bermotor Listrik, Luhut juga mengaku bahwa Perpres tersebut akan segera ditandatangani Presiden Joko Widodo.

“Tadi sudah selesai Perpresnya mungkin hari-hari ke depan ini Presiden tanda tangan, dari kami sudah selesai paraf, Bu Sri Mulyani juga sudah, kemarin saya teleponan dengan bu Sri Mulyani, beliau mengatakan ‘saya sudah paraf Pak Luhut, sudah selesai kantor Presiden,” jelas Luhut.

Dalam Perpres tersebut, pelaku industri mobil listrik bisa mendapatkan beberapa insentif seperti penghapusan atau pengurangan sebagian dari Pajak Penghasilan (PPh), atau disebut tax holiday dan fasilitas pengurangan Penghasilan Kena Pajak (PKP). Bahkan, pemerintah juga bisa membebaskan bea masuk terkait kebutuhan yang diperlukan industri otomotif.

Saat ini, kawasan IMIP mempekerjakan 30.028 tenaga kerja, 3.100 di antaranya merupakan tenaga kerja asing yang sebagian besar dari China dengan masa kontrak paling lama tiga tahun. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Asia BusinessAsia InvestAsia TechnologyCANContemporary Amperex TechnologyIMIP MorowaliIndustri BateraiKonsorsium China AmerikaLGLG ChemLuhut Binsar PandjaitanMercedesMobil ListrikMorowaliPerpres Mobil ListrikSmelter FeronikelVolkswagen
No Result
View All Result

Terbaru

  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • ASEAN, Russia Agree to Deepen Economic Cooperation Amid Global Uncertainty
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.