• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Batu Bara Mulai Terbatas, Australia Lirik Sumber Energi Terbarukan

by Redaksi Asiatoday
October 11, 2019
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Batu Bara Mulai Terbatas, Australia Lirik Sumber Energi Terbarukan

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sekitar dua pertiga sumber energi Australia berasal dari batu bara, bersamaan dengan rencana penutupan pembangkit tenaga batu bara yang sudah tua, negeri kanguru tersebut harus mencari pengganti yang memberikan tingkat keandalan dan keterjangkauan yang sama.

Menteri Energi Angus Taylor mengatakan bahwa Australia harus segera mencari sumber alternatif agar pembangkit batu bara dapat tetap beroperasi, dia bahkan menyalahkan hal tersebut dengan adanya perpindahan ke sumber energi angin dan tenaga surya yang lebih dapat diandalkan.

Komentar Taylor tersebut merupakan pernyataan pro-batu bara dari pemerintahan Scott Morrison yang bergantung pada sumber energi fosil sebagai penggerak ekonomi Australia.

RelatedPosts

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Pernyataan pemerintah Australia tersebut bertentangan dengan seruan penutupan 21 pabrik batu bara serta tren bisnis yang kini lebih banyak menggunakan energi terbarukan.

“Rekor investasi pada energi terbarukan terkait erat dengan penurunan keandalan dan kenaikan harga energi,” ujar Taylor pada konferensi di Sydney, seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (11/10/2019).

Negara bagian Victoria dan Australia Selatan berada di zona bahaya, di mana kapasitas pembangkit untuk menghasilkan energi, kini tidak mampu memproduksi permintaan maksimum.

Taylor menambahkan bahwa selain berupaya menyelamatkan sumber energi batu bara, dia akan fokus pada menemukan proses yang hemat energi, daripada mendukung teknologi atau sumber energi tertentu.

Grattan Institue, sebuah think tank kebijakan publik, memperkirakan bahwa Australia kemungkinan membutuhkan sekitar US$270 miliar dalam aset pembangkit dengan skala utilitas baru untuk 30 tahun ke depan.

Industri ini secara luas menyetujui bahwa dibutuhkan daya yang lebih besar untuk mendukung energi terbarukan, sayangnya arah kebijakan pemerintah untuk mempromosikan investasi tersebut hingga saat ini belum mendukung.

“Kebijakan yang lemah dan bertahan selama satu dekade telah membuat pemerintah sulit untuk berkomitmen dalam investasi aset lama. Saat ini, harga energi yang lebih kuat tidak cukup untuk memastikan apakah sistem yang andal dapat dibangun,” kata CEO Origin Energy Frank Calabria.

Dia menambahkan bahwa undang-undang energi Australia, yang diajukan kembali ke parlemen pada bulan lalu dan memberi ancaman bagi perusahaan yang menggabungkan usaha ritel dan pembangkit energi, justru menghambat investasi energi terbarukan yang sangat dibutuhkan.

Kerry Schott, Ketua Dewan Keamanan Energi, yang dibentuk oleh pemerintah nasional dan negara bagian untuk mengawasi reformasi pasar energi, mengatakan menambahkan generasi baru yang fleksibel dan tahan lama harus menjadi prioritas, tetapi batu bara bukanlah jawabannya.

Pembangkit listrik tenaga batu bara yang tidak fleksibel, yang harus tetap beroperasi pada siang hari bahkan dengan tenaga surya yang melimpah, akan menjadi hambatan dalam transisi menuju daya bersih.

Pemerintah Australia mendukung dua proyek infrastruktur energi utama yang bertujuan untuk meningkatkan keandalan jaringan aliran daya, antara lain proyek pumped-hydro Snowy senilai 5 miliar dolar Australia dan alat transmisi baru antara negara bagian pulau Tasmania dan daratan Australia.

Mereka juga berencana untuk menanggung proyek-proyek pembangkit baru, sebagian besar adalah pembangkit listrik tenaga gas. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: AustraliaAustralianelectricalindustriesBatubara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.