• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Biodiversity Melimpah, Indonesia Peluang Punya Industri Obat Herbal Terstandar

by Redaksi Asiatoday
March 8, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Biodiversity Melimpah, Indonesia Peluang Punya Industri Obat Herbal Terstandar

Rempah Indonesia. ilustrasi

ASIATODAY.ID, CIBINONG – Indonesia memiliki potensi sekitar 33 ribu spesies yang berpotensi menjadi bahan obat di Indonesia. Namun pemanfaatannya masih menjadi tantangan.

“Baru sekitar 800 spesies yang menjadi bahan jamu, sekitar 30 spesies menjadi obat herbal yang berstandar, dan hanya sekitar 12 sampai 14 spesies yang menjadi fitofarmaka,” terang Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko dalam seminar Drug Discovery and Development in Indonesia: From Biodiversity to Medicine di Cibinong, Jawa Barat, baru-baru ini, sebagaimana keterangan tertulis LIPI yang dikutip, Minggu (8/3/2020).

Menurut Handoko, masih banyak keanekaragaman hayati yang bisa dieksplorasi oleh peneliti dan tentu saja untuk menjadi obat membutuhkan proses yang panjang.

RelatedPosts

Pacific Climate Crisis: Papua’s Last Glacier Nears Extinction

Indonesia Leads Southeast Asia’s Push for Deep-Sea Research Independence

Australia and Indonesia Lead Regional Ocean Conservation Initiative

“Untuk itulah kita berkolaborasi dengan banyak pihak baik dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Saat ini, LIPI bekerjasama dengan PharmaMar dari Spanyol untuk meneliti bahan obat antikanker.

“Kita berharap kolaborasi dengan PharmaMar dari Spanyol dapat berjalan dengan baik sehingga kedepan kita dapat menjawab permasalahan pada pengobatan kanker,” ujarnya.

Menurut Handoko, perlu upaya untuk kolaborasi antara akademisi, industri, juga masyarakat guna mewujudkan Prioritas Riset Nasional (PRN) obat herbal terstandar dan fitofarmaka serta PRN vaksin HPV dan insulin .

“Tahun ini LIPI akan membangun Gedung Genomic dan Lingkungan Nasional serta Gedung Hayati Nasional untuk menyimpan Koleksi yang ada, selain itu peralatan pendukung penelitian juga terus dilengkapi,” ungkapnya.

Masteria Yunovilsa Putra dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menjelaskan LIPI sedang mengembangkan jahe merah, rosella merah, dan teripang yang merupakan kekayaan hayati yang berasal dari laut.

“Saat ini kita fokus dengan teripang sebagai bahan anti kanker,selain itu kita juga selalu mengupayakan agar obat-obatan yang dihasilkan dari kekayaan hayati Indonesia dapat menuju obat herbal terstandar dan fitofarmaka,”jelasnya. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: BiodiversityIndustri FarmasiIndustri HerbalKeanekaragaman HayatiLIPI
No Result
View All Result

Terbaru

  • AMMAN Targets 16 Tons of Gold Output in 2026
  • Saudi Arabia’s New Tariffs Create Fresh Opportunities for Indonesia’s Export Growth
  • Gold’s Safe-Haven Era Faces a New Test
  • Asia at a Turning Point: IMF Urges the Region to Prepare for a New Economic Order
  • Indonesia Expands Defense Partnerships with South Korea and Finland
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.