• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

British Petroleum (BP) Rugi USD20,3 Miliar, 10 Ribu Karyawan Terancam PHK

by Redaksi Asiatoday
February 2, 2021
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
British Petroleum (BP) Rugi USD20,3 Miliar, 10 Ribu Karyawan Terancam PHK

Fasilitas kilang British Petroleum (BP). Dok

ASIATODAY.ID, LONDON – Raksasa migas global British Petroleum (BP) melaporkan kerugian bersih senilai USD20,3 miliar atau sekitar Rp 285 triliun untuk periode 2020, terlepas dari laba kuartal keempat. Hal ini diakibatkan adanya pandemi Covid-19 yang merusak permintaan energi global.

Kerugian tersebut sangat kontras dengan laba bersih USD4,0 miliar yang tercatat untuk 2019. Perwakilan BP mengatakan sektor minyak telah terpukul oleh dampak krisis Covid-19.

Perusahaan yang terdaftar di Bursa London itu mengatakan, kerugian didorong oleh jatuhnya harga minyak dan gas, serta secara signifikan ada penurunan nilai dan penghapusan eksplorasi selama tahun yang penuh gejolak untuk industri energi.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Namun pada kuartal IV-2020, laba bersih mencapai USD1,36 miliar setelah BP menjual bisnis petrokimia kepada rivalnya, perusahaan swasta Ineos, pada harga USD5 miliar.

BP berencana memberhentikan sekitar 10.000 pekerjaan atau 15 persen dari tenaga kerja globalnya sebagai bagian dari efisiensi yang berakhir pada 2021. Perusahaan juga mulai melepas aset besar setelah virus corona memicu penurunan besar dari nilai aset.

“Tahun 2020 akan selamanya dikenang karena rasa sakit dan kesedihan yang disebabkan oleh Covid-19. Banyak nyawa hilang, mata pencaharian hancur. Sektor kami juga terpukul keras,” kata Kepala Eksekutif BP Bernard Looney dalam sebuah pernyataan, Selasa (2/2/2021), dikutip dari AFP.

Ia mengatakan, perjalanan darat dan udara turun, begitu pula permintaan minyak, harga dan margin. Tahun lalu juga merupakan tahun yang penting bagi perusahaan yang berambisi bebas emisi (net zero).

BP juga menetapkan strategi baru untuk menjadi perusahaan energi terintegrasi dan menciptakan bisnis pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di Amerika Serikat (AS).

“Kami terpaksa menciptakan kembali BP -dengan hampir 10.000 orang meninggalkan perusahaan. Kami memperkuat keuangan kami, memotong biaya, dan menutup divestasi besar,” jelas Looney.

Pada Senin kemarin, perusahaan mengumumkan penjualan 20 persen  sahamnya di Blok 61 ladang gas Oman ke PTTEP yang dikendalikan negara Thailand senilai USD2,6 miliar. BP akan mempertahankan 40 persen kepemilikan dan terus mengoperasikan blok tersebut.

Di bawah Looney, yang mengambil alih kendali di BP setahun yang lalu saat pandemi mulai menguasai, Grup BP ingin mengumpulkan USD25 miliar dari penjualan aset pada 2025.

Setelah perusahaan di seluruh dunia menutup pintu dan maskapai penerbangan melarang penerbangan menjelang akhir kuartal pertama tahun lalu, harga minyak turun drastis, bahkan menjadi negatif pada satu titik. Harga kemudian rebound tajam dan saat ini diperdagangkan di atas US$ 50 per barel.

Antisipasi Pemulihan Permintaan

Beralih ke prospek, BP memperkirakan pemulihan permintaan minyak tahun ini. Tetapi pihaknya juga memperingatkan hal ini akan bergantung pada peluncuran vaksin dan tindakan oleh pemerintah dan individu di seluruh dunia.

“Permintaan minyak diperkirakan pulih pada 2021. Kecepatan dan tingkat pertumbuhan bergantung pada peluncuran vaksin dan tindakan yang diberlakukan pemerintah maupun individu di seluruh dunia,” kata BP.

Namun, BP mencatat pembatasan Covid-19 akan memiliki dampak material pada divisi hilirnya pada kuartal pertama 2021.

“BP akan terus meninjau semua tindakan dan menanggapi setiap perubahan lebih lanjut dalam kondisi pasar yang berlaku,” tambahnya.

Satu tahun lalu, Looney meluncurkan rencana ambisius bagi BP untuk mencapai emisi karbon nol bersih pada 2050. Sementara perusahaan berusaha mengimbangi penurunan produksi minyak dan gas dengan output yang lebih besar dari sumber energi berkelanjutan, seperti listrik dan tenaga angin.

Pada September 2020, BP memasuki pasar tenaga angin lepas pantai dalam hubungan AS dengan rekan Norwegia Equinor.

BP setuju untuk membayar Equinor sebesasr USD1,1 miliar untuk kepentingan pengembangan angin di lepas pantai New York dan Massachusetts, sambil mengejar proyek AS lainnya bersama. Hingga saat ini BP hanya mengoperasikan aset angin darat, sebagian besar di AS. (ATN)

Tags: British PetroleumIndustri Migas
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.