• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Cegah Gejolak, BI Kucurkan Rp168,2 Triliun untuk Stabilkan Rupiah 

by Redaksi Asiatoday
March 24, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Cegah Gejolak, BI Kucurkan Rp168,2 Triliun untuk Stabilkan Rupiah 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengucurkan dana senilai Rp168,2 triliun untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Langkah tersebut dilakukan sejak awal tahun agar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, dana tersebut dikucurkan untuk membeli SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor asing.

“Ini adalah SBN yang dilepas oleh asing dan kami dari BI melakukan pembelian dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah. Tidak hanya memasok valas-nya, tapi kami juga membeli SBN dari pasar sekunder,” ujar Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Perry mengklaim langkah ini berhasil mendorong nilai tukar rupiah bergerak stabil pada hari ini. Hal tersebut imbas permintaan maupun penawaran di pasar valas yang berjalan dengan baik.

“Terima kasih kepada para eksportir yang sudah memasok dolarnya ke pasar valas sehingga hari ini nilai tukar bergerak stabil di pasar valas. Kami pastikan bahwa Bank Indonesia terus berada di pasar, memantau secara baik, dan mengintervensi atau menstabilisasi nilai tukar yang diperlukan,” jelasnya.

Adapaun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Selasa, 24 Maret 2020 berada di level Rp16.500 per USD. Rupiah menguat tipis 75 poin atau 0,45 persen dari pembukaan perdagangan di level Rp16.505 per USD.

Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.474 per USD hingga Rp16.505 per USD. Sementara itu, Yahoo Finance mencatat mata uang Garuda berada di posisi Rp16.475 per USD atau menguat 128 poin atau 0,77 persen dari pembukaan perdagangan di level 16.603 per USD.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) menunjukkan rupiah menguat di posisi Rp16.486 per USD dari level Rp16.608 per USD di hari sebelumnya.

Tak Ingin Krisis Berlanjut

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut saat ini seluruh negara di dunia sama-sama tengah menghadapi krisis kesehatan akibat penyebaran virus corona (covid-19). Meski begitu, pemerintah ingin meminimalisasi dampak krisis ini agar tidak melebar ke sektor lain.

“Sekarang seluruh dunia sedang menghadapi krisis di bidang kemanusiaan, yang sedang diupayakan jangan sampai krisis kesehatan ini mempengaruhi sangat dalam pada krisis ekonomi, sosial dan keuangan,” terangnya dalam video conference di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Menurut Sri, semua negara menjaga agar krisis akibat corona ini tidak berdampak lebih luas hingga menimbulkan krisis ekonomi. Meskipun adanya covid-19 ini menyebabkan terjadinya kontraksi ekonomi, tetapi tidak berarti krisis ekonomi sedang terjadi.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan, kondisi serupa pernah terjadi di 2008-2009 lalu akibat krisis keuangan yang merembet ke sektor lain. Untuk itu, seluruh negara saat ini berusaha agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.

“Ini sedang diikhtiarkan, diupayakan seluruh negara G20 dan non-G20, agar krisis ini bisa ter-contain atau dicegah pada level masalah kesehatan. Dan sedikit pada masalah ekonominya tapi tidak berkelanjutan,” jelasnya.

Sri Mulyani menjelaskan, saat ini penting bagaimana seluruh negara ikut merespons kondisi ini namun tidak saling tumpang tindih kepentingan. Oleh karenanya, para pimpinan negara anggota G20 akan melaksanakan pertemuan darurat untuk bersama-sama merespon kondisi terkini.

“Ini persis di 2009 pada saat Presiden George Bush mengundang emergency meeting di Washington. Persis situasinya, cuma dulu triggernya krisis keuangan spill over ke ekonomi dan masyarakat, sekarang triggernya sektor kesehartan dan keamanan masyarakat bisa masuk ke sektor ekonomi dan diharapkan tidak masuk ke krisis selanjutnya,” tandasnya. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Bank IndonesiaCorona IndonesiaCOVID-19KemenkeuKrisis EkonomiResesi EkonomiResesi GlobalRupiahSri Mulyani Indrawati
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.