• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

China Desak Negosiasi Langsung Rusia dan Ukraina untuk Akhiri Perang

by Redaksi Asiatoday
March 6, 2022
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
China Desak Negosiasi Langsung Rusia dan Ukraina untuk Akhiri Perang

Pasukan Rusia menggempur Kota Kiev, Ukraina. Foto: Kementerian Pertahanan Rusia

ASIATODAY.ID, BEIJING – Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi mendesak negosiasi langsung antara Rusia dan Ukraina untuk mengakhiri perang.

Wang mengungkapkan hal itu saat berbicara dengan Menlu Amerika Serikat (AS) Antony Blinken melalui telepon.

Pembicaraan itu menandai panggilan pertama antara diplomat top dari kedua negara itu sejak Rusia melancarkan serangan yang dibalas perlawanan sengit dari pejuang Ukraina yang mempertahankan kendali atas ibukota Kiev.

RelatedPosts

Indonesia, U.S. Deepen Air Defense Cooperation as Indo-Pacific Security Challenges Grow

Venezuela Quake Disaster: UN Rallies International Emergency Response

Indonesia Targets Chinese Steel Firm in Surprise Tax Raid

China telah menempuh jalur diplomatik yang hati-hati sejak konflik dimulai, dengan menolak untuk mengutuk tindakan Moskow setelah bulan lalu menggembar-gemborkan persahabatan “tanpa batas” antara kedua negara.

Pada hari Sabtu (5/3/2022), Wang mengatakan kepada Blinken: “Kami mendorong negosiasi langsung antara Rusia dan Ukraina,” menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kementerian Luar Negeri China.

“Kami berharap pertempuran akan berhenti secepat mungkin dan bahwa krisis kemanusiaan skala besar akan dicegah,” tambah Wang, yang mengakui negosiasi antara kedua negara tidak akan “berjalan mulus”.

Sementara itu Blinken mengatakan, dunia sedang “menonton untuk melihat negara mana yang membela prinsip-prinsip dasar kebebasan, penentuan nasib sendiri dan kedaulatan,” menurut juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

“Dunia bertindak serempak untuk menolak dan menanggapi agresi Rusia, dengan memastikan bahwa Moskow akan membayar mahal,” kata Blinken.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell juga mengatakan, China harus menjadi penengah pembicaraan damai di masa depan antara Rusia dan Ukraina karena kekuatan Barat tidak dapat memenuhi peran tersebut.

“Tidak ada alternatif lain…peran ini harus diambil China, saya yakin itu,” kata Borrell dalam wawancara dengan harian Spanyol El Mundo yang diterbitkan pada Jumat malam.

“Diplomasi tidak bisa hanya Eropa atau Amerika. Diplomasi China memiliki peran untuk dimainkan di sini.” (AFP)

Tags: Krisis Ukraina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia, U.S. Deepen Air Defense Cooperation as Indo-Pacific Security Challenges Grow
  • Final Hours to Predict the 2026 World Cup Champion: Mansion Sports FC Offers IDR100 Million Prize
  • Venezuela Quake Disaster: UN Rallies International Emergency Response
  • Indonesia Targets Chinese Steel Firm in Surprise Tax Raid
  • Bangladesh Defies US Pressure, Seals 13 Strategic Deals With China in Major Geopolitical Shift
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.