• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

China Krisis Energi Listrik, Rantai Pasok Global Terancam Lumpuh

by Redaksi Asiatoday
September 28, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
UNCTAD: Perdagangan Global Mulai Recovery, Namun Belum Merata

Aktivitas ekspor dan impor di pelabuhan China. Ist

ASIATODAY.ID, BEIJING – Krisis energi listrik China menjadi masalah baru bagi rantai pasokan global karena pabrik-pabrik eksportir terbesar dunia dipaksa untuk menghemat energi dengan membatasi jumlah produksi.

Laporan Bloomberg, Selasa (28/9/2021), gangguan terjadi saat produsen dan distributor berlomba untuk memenuhi permintaan mulai dari pakaian hingga mainan untuk musim belanja liburan akhir tahun. Fatalnya, jalur pasokan yang terganggu oleh melonjaknya biaya bahan baku, penundaan lama di pelabuhan, dan kekurangan kontainer pengiriman.

Produsen memperingatkan kebijakan ketat untuk memotong penggunaan listrik akan memangkas output di wilayah – wilayah pusat ekonomi seperti provinsi Jiangsu, Zhejiang dan Guangdong. Semuanya menyumbang hampir sepertiga dari produk domestik bruto negara dan kemungkinan mereka akan menaikkan harga.

RelatedPosts

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

Pemerintah daerah memerintahkan pemadaman listrik karena mereka berupaya mengejar target yang hilang demi mengurangi energi dan intensitas emisi karbon. Sementara beberapa perusahaan menghadapi kekurangan listrik.

Clark Feng dari perusahaan furniture, Vita Leisure Co. mengatakan, pembatasan listrik di provinsi timur Zhejiang, telah memberikan pukulan terhadap bisnis lain. Produsen kain, misalnya menghentikan produksi dan mulai menaikkan harga serta menunda menerima pesanan baru dari luar negeri.

“Kami sudah berjuang untuk mengirim barang ke luar negeri, dan sekarang dengan pembatasan kapasitas produksi, itu pasti akan menjadi kekacauan besar,” kata Feng.

“Kami sudah harus berurusan dengan begitu banyak faktor yang tidak pasti, dan sekarang ada satu lagi. Akan lebih sulit untuk mengirimkan pesanan, terutama untuk musim liburan,” lanjut dia.

Yiwu Huading Nylon Co. Ltd., pembuat nilon kain sintetis di Zhejiang, menangguhkan setengah dari kapasitas produksinya sejak 25 September lalu sebagai tanggapan atas kebijkan pemerintah daerah untuk memangkas konsumsi listrik. Perusahaan berharap produksi bisa dilanjutkan mulai 1 Oktober mendatang.

Masalah listrik datang setelah gangguan yang terjadi pelabuhan baru-baru ini. Salah satunya pelabuhan Ningbo, tidak beroperasi selama berminggu-minggu bulan lalu setelah wabah Covid-19. Sementara pelabuhan Yantian di Shenzhen ditutup sejak Mei lalu.

Krisis energi akan membebani ekonomi China yang pada saat itu sudah melambat karena faktor-faktor seperti langkah-langkah pengendalian virus yang ketat dan pembatasan yang lebih ketat untuk mengendalikan pasar properti.

Goldman, Nomura Holdings Ltd., China International Capital Corp. dan Morgan Stanley juga telah menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB atau memperingatkan pertumbuhan yang lebih rendah karena gangguan listrik tersebut.

“Pasar global akan merasakan sedikit kekurangan pasokan dari tekstil, mainan hingga suku cadang mesin,” kata Lu Ting, kepala ekonom China di Nomura Holdings Inc di Hong Kong.

Operasi perakitan iPhone di China mulai mengurangi konsumsi energi mereka. Pegatron Corp., mitra utama Apple Inc. dan salah satu perakit iPhone, berupaya menghemat energi listrik untuk mematuhi kebijakan pemerintah daerah.

Namun perusahaan yang bertanggung jawab untuk memproduksi handset Apple sejauh ini telah menghindari pengurangan drastis dalam produksi dan tampaknya mendapatkan akses preferensial ke sumber energi untuk menjaga operasi tetap berjalan. (ATN)

Tags: ChinaGlobal Supply ChainKrisis Energi
No Result
View All Result

Terbaru

  • BRICS Pushes for New Global Order: India, Russia and China Deepen Strategic Coordination
  • IsDB Unites 78 Nations Through $6 Billion in Agreements
  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.