• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Dampak Covid-19 di Indonesia Lebih Kompleks Dibandingkan Krisis 1998 dan Resesi 2008

by Redaksi Asiatoday
April 16, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pandemi Global Virus Corona Picu Krisis Ekonomi

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan dampak pandemi coronavirus (Covid-19) terhadap kinerja ekonomi di Indonesia jauh lebih kompleks dibandingkan dengan krisis-krisis sebelumnya.

Bahkan, krisis kali ini jauh lebih berat dibandingkan krisis moneter yang terjadi pada 1998 dan resesi global pada 2008.

“Saya sampaikan, dampak covid-19 ini jauh lebih kompleks dari krisis 2008/2009. Juga jauh lebih kompleks dari krisis 1997/1998 karena kita tahu penyebab dan bisa contain,” terang Sri Mulyani dalam forum rapat kerja bersama Komisi XI DPR secara virtual di Jakarta, Senin (6/4/2020).

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

Menurutnya, dampak kompleks covid-19 lantaran sulitnya mendeteksi faktor yang menjadi penyebab utama hadangan sektor ekonomi dan keuangan. Namun pandemi ini mengancam manusia, mematahkan seluruh fondasi ekonomi di seluruh negara, hingga menyebabkan gejolak di pasar modal yang tidak ada jangkarnya.

Sementara pada krisis 2008 diketahui penyebab utamanya, yakni kegagalan di lembaga keuangan dan korporasi.

“Kalau sudah declare bankrupt dan dihitung kerugian sudah muncul anchor jangkarnya,” paparnya.

Resesi global saat itu terjadi kata dia, karena pasar keuangan di Amerika Serikat (AS) terlilit kasus subprime mortgage. Kasus ini bermula saat pemerintah AS memberi kemudahan kepemilikan rumah terhadap kaum kelas menengah bawah (berpendapatan rendah atau subprime).

Sayangnya, subprime mortgage atau kredit jangka panjang yang berkisar antara 10-20 itu kemudian terjadi default atau mismatch credit akibat ‘bermainnya’ bank kredit perumahan (KPR) terbesar di AS, Lehmann Brothers yang menjual kembali KPR-nya ke Bank Investasi.

Sedangkan covid-19, kata Sri Mulyani, diumpamakan tidak terlihat jangkar atau tempat pemberhentiannya. Hal ini karena pandemi covid-19 belum diketahui sampai kapan berakhirnya.

“Apakah sudah setelah puncak mengerikan atau dalam situasi lebih baik,” paparnya.

Begitu pun bila dibandingkan dengan krisis moneter 1998 yang pada saat itu pemerintah mengetahui penyebabnya dan bisa diatasi.

“Kalau covid belum bisa containment ditahan,” tandasnya.  (ATN)

Tags: Krisis EkonomiResesi EkonomiResesi GlobalSri Mulyani Indrawati
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.