• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Dampak Perubahan Iklim, Konflik Air Rawan Terjadi di Indonesia

by Redaksi Asiatoday
April 30, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Krisis Ekologi Jadi Biang Banjir Jakarta

Banjir di Jakarta. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan perubahan iklim saat ini menyebabkan siklus air juga mengalami perubahan yang signifikan dan berdampak pada kehidupan manusia.

“Setidaknya ada lima dampak signifikan yang dapat terajdi sebagai akibat dari perubahan iklim ini yakni pencemaran air, hilangnya keanekaragaman hayati, kekurangan air bersih dan sanitasi,
kekeringan dan banjir, serta konflik air,” kata Profesor Riset Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ignasius Dwi Atmana Sutapa, dalam keterangan tertulis LIPI, Rabu (29/4/2020).

Akibat perubahan iklim ini, diperkirakan Indonesia akan terkena dampak dari kenaikan muka air laut. Naiknya permukaan air laut juga dapat menyebabkan beberapa pulau kecil akan tenggelam.

RelatedPosts

Pacific Climate Crisis: Papua’s Last Glacier Nears Extinction

Indonesia Leads Southeast Asia’s Push for Deep-Sea Research Independence

Australia and Indonesia Lead Regional Ocean Conservation Initiative

“Beberapa kota yang berada di pinggir laut seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya akan menderita banjir,” ujarnya.

Untuk itu, upaya menanggulangi dampak perubahan iklim di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih adalah Pemerintah terus menambah pembangunan waduk. Ini nantinya dapat digunakan untuk menampung kelebihan air di musim hujan.

Sehingga nantinya bisa dimanfaatkan pada musim kemarau yang saat ini terjadi dengan ekstrim.

“Selain untuk pemenuhan kebutuhan akan air bersih, waduk juga dapat menopang perekonomian masyarakat, di antaranya untuk pengairan,” terangnya.

Ia pun mewanti-wanti, apabila air tidak dikelola dengan baik maka suatu saat akan terjadi bencana, karena air adalah aset yang sangat penting.

“Jumlah air tetap, akan tetapi kebutuhan akan air semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Kualitas air yang semakin menurun dari waktu ke waktu disebabkan oleh aktivitas manusia,” imbuhnya. (AT Network)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyKonservasi AlamLIPIPencemaran LingkunganPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • AMMAN Targets 16 Tons of Gold Output in 2026
  • Saudi Arabia’s New Tariffs Create Fresh Opportunities for Indonesia’s Export Growth
  • Gold’s Safe-Haven Era Faces a New Test
  • Asia at a Turning Point: IMF Urges the Region to Prepare for a New Economic Order
  • Indonesia Expands Defense Partnerships with South Korea and Finland
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.