• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Dikontrol Ketat AS, Perusahaan China Weibo Cabut dari Wall Street

by Redaksi Asiatoday
September 30, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Dikontrol Ketat AS, Perusahaan China Weibo Cabut dari Wall Street

Aplikasi China, Weibo. Dok

ASIATODAY.ID, NEW YORK – Ketatnya kontrol yang diberlakukan Pemerintah Amerika Serikat (AS) membuat perusahaan media sosial China yang menaungi Weibo, Sina Corp akhirnya cabut dari Wall Street.

Weibo merupakan perusahaan media sosial terbesar di China yang menyerupai Twitter. CEO Sina Corp Charles Chao memutuskan untuk keluar dari pasar modal dengan kesepakatan senilai USD2,6 miliar atau setara Rp38,48 triliun.

Melansir CNN Business, Rabu (30/9/2020), harga penawaran USD43,3 per saham tersebut setara dengan 8 persen dari premi harga penutupan perdagangan di New York pada Jumat (25/9) lalu.

RelatedPosts

Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network

OPEC+ Builds New Energy Alliance

Asia at a Turning Point: IMF Urges the Region to Prepare for a New Economic Order

Penawaran tersebut juga lebih tinggi dari penawaran pembelian awal yang dibuat oleh New Wave Holdings, perusahaan investasi milik Chao, pada Juli lalu.

Kesepakatan terjadi seiring dengan meningkatnya ketegangan antara China dengan AS. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara berselisih karena ancaman dan pembatasan AS terhadap perusahaan teknologi China yang telah menjerat aplikasi raksasa lainnya seperti TikTok, WeChat dan pembuat chip SMIC.

Di Wall Street, perusahaan China juga menghadapi lebih banyak pengawasan, seperti Luckin Coffee yang didepak keluar dari Nasdaq menyusul pengungkapan penyimpangan akuntansi besar-besaran.

Anggota parlemen AS, lembaga pemerintah, dan bursa saham sejak itu mengambil langkah yang membatasi akses China ke pasar modal Amerika yang luas.

Pada Mei, Senat AS dengan suara bulat mengesahkan RUU yang mencegah perusahaan menolak membuka keuangan mereka di Wall Street. Saat ini, RUU masih harus disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS.

Rekan sponsor bipartisan RUU itu mengatakan tujuan RUU tersebut untuk menendang perusahaan China yang menipu dari bursa AS.

Pada Agustus lalu, Penasihat Presiden AS untuk Pasar Modal merilis sebuah laporan yang merekomendasikan peningkatan pengawasan terhadap perusahaan China yang terdaftar dan persyaratan uji tuntas untuk berinvestasi di perusahaan China.

Belum lama ini, sebagian perusahaan teknologi besar China pun mulai listing sekunder di Hong Kong dan Shanghai seperti Alibaba dan JD.

Aksi korporasi ini mereka lakukan karena kekhawatiran akan potensi masalah regulasi di Amerika Serikat, serta ingin lebih dekat dengan investor yang benar-benar menggunakan produk mereka. (ATN)

Tags: Amerika SerikatChinaTikTokWechatWeibo
No Result
View All Result

Terbaru

  • Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network
  • OPEC+ Builds New Energy Alliance
  • AMMAN Targets 16 Tons of Gold Output in 2026
  • Saudi Arabia’s New Tariffs Create Fresh Opportunities for Indonesia’s Export Growth
  • Gold’s Safe-Haven Era Faces a New Test
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.