• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Efek Kebijakan China, Pendapatan Industri Tambang Global Tergerus

by Redaksi Asiatoday
February 13, 2022
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Efek Kebijakan China, Pendapatan Industri Tambang Global Tergerus 1

Tambang Rio Tinto di Australia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pendapatan industri pertambangan global kian tergerus menyusul adanya tekanan harga yang diterapkan oleh China.

Analis memprediksi lima perusahaan tambang diversifikasi teratas di negara barat, termasuk Rio Tinto Group, Vale SA dan BHP Group Ltd., bahwa pendapatan ketiganya setelah dikombinasi mencapai US$73 miliar pada semester II/2021.

Angka itu turun dibandingkan dengan paruh pertama senilai US$82 miliar. Meskipun kenaikan harga logam dapat memacu keuntungan perusahaan, hambatan di sektor ini menjadi faktor utama penurunan prospek.

RelatedPosts

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

“Dengan keuntungan yang mereka nikmati, mereka memberikan penghargaan kepada pemegang sama dengan dividen daripada menggunakannya untuk ekspansi,” kata David Bassanese, Kepala Ekonom Manajer Dana BetaShares di Sydney, dikutip dari Bloomberg, pada Minggu (13/2/2022).

Hal itu, katanya, menunjukkan bahwa tidak adanya keyakinan untuk jangka panjang, utamanya dipicu oleh ketidakpastian tentang China.

Ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi pada konsumen logam terbesar di dunia menjadi awan hitam bagi prospek industri tambang, terutama bisnis bijih besi.

Pasar properti China yang berkontribusi hingga sepertiga industri bajanya itu mulai mendingin.

Bloomberg Intelligence memperkirakan pasar rumah baru akan menurun hingga 5 persen pada tahun ini.

Pertaruhan Beijing untuk mencapai nol kasus Covid adalah faktor X yang meresahkan para eksekutif perusahaan sumber daya alam.

BHP dan Rio Tinto Group mengungkapkan tengah menghadapi kekurangan tenaga kerja pada bagian kunci sehingga berdampak pada operasional mereka.

Sementara itu, raksasa tambang nomor empat di dunia asal Australia, Fortescue Metals Group Ltd., melaporkan bahwa beban biaya naik hingga 20 persen dalam 12 bulan terakhir akibat kenaikan harga bahan bakar dan kekurangan tenaga kerja.

Adapun Vale diperkirakan sudah bisa mengimbangi harga bijih besi yang bergejolak dengan menjual cadangannya dan menurunkan biaya pada kuartal terakhir.

Kendati demikian, pasar akan mewaspadai potensi meningkatnya persediaan untuk tindakan perbaikan setelah bencana bendungan Samarco di Brasil.

Perusahaan Brasil ini masih mengupayakan untuk mengembalikan divisi logamnya kembali ke jalur setelah aksi mogok kerja dan insiden terjebaknya pekerja Vale di sebuah tambang di Kanada. Hal itu memengaruhi produksi nikel dan tembaga pada kuartal III/2022.

Penambang bijih besi telah mengalami gejolak pada paruh kedua tahun 2021. Harga turun dari puncak di utara hingga US$230 per ton pada Mei lalu terperosok menjadi sekitar US$80 pada November setelah China memperketat pembatasan produksi baja untuk memenuhi standar lingkungan yang lebih ketat.

Harga terus reli di tengah ekspektasi rebound pada output baja setelah Beijing melonggarkan target iklim. Namun volatilitas harga tetap menjadi risiko untuk prospek pendapatan. (ATN)

Tags: Industri Tambang
No Result
View All Result

Terbaru

  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.