• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Ekonomi Mitra Dagang Indonesia Banyak Terkontraksi

by Redaksi Asiatoday
May 6, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Harga Nikel di Pasar Dunia Menurun Tajam

Komoditi nikel. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia pada triwulan I 2020 banyak mengalami kontraksi. Hal itu lantaran negara-negara mitra menerapkan pemberlakuan pembatasan aktivitas atau lockdown. 

“Saya memulai dengan beberapa catatan peristiwa yang mulai selama triwulan I 2020, kalau kita lihat berbagai prediksi perekonomian global pada triwulan I 2020 ini, diperkirakan akan mengalami kontraksi karena terjadinya penyebaran virus corona yang bermula dari Wuhan pada Desember 2019,” terang kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Selasa (5/5/2020). 

Menurut Suhariyanto, akibat kontraksi ekonomi, dalam triwulan I 2020 ini berbagai harga komoditas di pasar internasional mengalami penurunan. Seperti komoditas tambang nikel dan mineral lainnya di pasar internasional pada triwulan I 2020 mengalami penurunan jika bandingkan dengan triwulan ke IV tahun 2019  atau triwulan I 2019. 

RelatedPosts

Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts

Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Sebaliknya, harga komoditas lain seperti sawit dan gula juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan kuartal ke IV 2019 dan kuartal I 2019 secara YoY. 

Suhariyanto mencontohkan, negara mitra dagang Indonesia yang mengalami kontraksil seperti yang terjadi di China.

“China merupakan negara tujuan utama ekspor indonesia, pada triwulan I 2019 (ekonomi) masih tumbuh 6,4 persen, tetapi pada triwulan 1 2020 ini mengalami kontraksi yang dalam yaitu minus 6,8 persen,” jelasnya.  

Sedangkan Amerika Serikat (AS) yang menjadi tujuan utama ekspor kedua juga mengalami tekanan. Pada triwulan I 2019, ekonomi AS masih tumbuh 2,7 persen tetapi pada triwulan I 2020 hanya 0,3 persen. 

Demikian juga dengan Singapura, yang pada triwulan I 2020 ini ekonominya tumbuh minus 2,2 persen, kemudian Korea Selatan (Korsel) melambat tipis dari 1,7 persen ke 1,3 persen. 

“Vietnam pertumbuhan ekonomi juga tertekan dalam dari 6,8 persen pada triwulan I 2019 sekarang tinggal 3,8 persen (triwulan I 2020). Hongkong, karena Covid-19 mulai demonstrasi di sana, pada triwulan I ini mengalami minus 8,9 persen. Sementara Uni Eropa, tolak ekspor kita itu ekonmi tumbuh 11,5 persen pada triwulan I tahun lalu kini terkontraksi 2,7 persen,” tandas Suhariyanto. (ATN)

Tags: BPSCOVID-19Ekspor IndonesiaEkspor MineralEkspor NickelMinerbaNikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.