• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

G7 Bersatu Cegah Rusia Invasi Ukraina

by Redaksi Asiatoday
December 12, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
G7 Bersatu Cegah Rusia Invasi Ukraina

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh Negara (G7), di Liverpool, Inggris. Foto: Media Kit G7

ASIATODAY.ID, LIVERPOOL – Negara-negara demokrasi terkaya yang tergabung dalam Kelompok Tujuh Negara (G7), berusaha untuk mencegah Rusia menggempur Ukraina.

G7 sepakat bersatu dan memperingatkan konsekuensi mengerikan untuk setiap serangan. Mereka juga mendesak Moskow untuk kembali ke meja perundingan.

Dipimpin oleh menteri luar negeri Inggris Liz Truss, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, Uni Eropa dan menteri luar negeri dari Perancis, Italia, Jerman, Jepang serta Kanada, mereka bertemu di kota Inggris utara Liverpool.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Pertemuan G7 terjadi ketika Barat resah atas ambisi militer dan ekonomi China, kemungkinan gagalnya pembicaraan untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir, dan ketika Rusia mengumpulkan pasukan di perbatasan Ukraina.

Dalam kesempatan itu Inggris menyerukan anggota G7 untuk lebih tegas dalam membela apa yang disebutnya “dunia bebas”, dan diskusi terfokus pada Rusia, China dan Iran sepanjang hari. Sebuah pernyataan tentang hasil dari pembicaraan itu dijadwalkan akan dirilis pada hari Minggu.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS menggambarkan pembicaraan hari itu sangat “intens” dan mengatakan masih ada jalur diplomatik untuk mengurangi ketegangan dengan Rusia.

“Jika mereka (Rusia) memilih untuk tidak menempuh jalan itu, akan ada konsekuensi besar dan biaya berat sebagai tanggapan, dan G7 benar-benar bersatu dalam hal itu,” katanya.

“Jenis biaya yang kita bicarakan dirancang untuk diterapkan dengan sangat cepat,” imbuhnya seperti dikutip dari Metro.us, Minggu (12/12/2021).

Berbicara pada sesi pembukaan pembicaraan, Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss telah mendesak G7 untuk berbicara dengan satu suara.

“Kita perlu membela diri terhadap ancaman yang berkembang dari aktor yang bermusuhan dan kita harus bersatu dengan kuat untuk melawan agresor yang berusaha membatasi batas kebebasan dan demokrasi,” katanya di awal pertemuan.

Ukraina berada di pusat krisis dalam hubungan Timur-Barat karena menuduh Rusia mengumpulkan puluhan ribu tentara dalam persiapan untuk kemungkinan serangan militer skala besar.

Rusia membantah merencanakan serangan apa pun serta menuduh Ukraina serta Amerika Serikat melakukan tindakan destabilisasi, dan mengatakan pihaknya membutuhkan jaminan keamanan untuk perlindungannya sendiri.

“Kita perlu mengambil setiap tindakan untuk kembali ke dialog,” kata Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock kepada wartawan.

Jerman sendiri bakal mengambil alih kepemimpinan G7 yang dilakukan secara bergilir dari Inggris pada tahun depan.

Washington mengirim diplomat puncaknya untuk Eropa, Asisten Sekretaris Karen Donfried, ke Ukraina dan Rusia pada 13-15 Desember untuk bertemu dengan pejabat senior pemerintah.

“Asisten Sekretaris Donfried akan menekankan bahwa kita dapat membuat kemajuan diplomatik untuk mengakhiri konflik di Donbass melalui implementasi perjanjian Minsk untuk mendukung Format Normandia,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.

Dalam kesempatan yang sama Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman bertemu hingga Jumat malam untuk membahas langkah ke depan terhadap Iran, menyusul dimulainya kembali pembicaraan di Wina, Austria tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

Pernyataan yang akan dirilis pada hari Minggu nanti diharapkan mencakup seruan bersama bagi Iran untuk memoderasi program nuklirnya dan menangkap peluang untuk menghidupkan kembali perjanjian multilateral di mana Iran membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi. (ATN)

Tags: G7Indo Pasifik
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.