• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Hacker China Beraksi, Diduga Bobol Sistem Keamanan 10 Institusi di Indonesia

by Redaksi Asiatoday
September 12, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Transaksi Digital di Indonesia Jadi Incaran Pelaku Kejahatan Siber

Cyber crime. Doc

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Aksi kejahatan siber yang diduga melibatkan hacker China terdeteksi di Indonesia.

Perusahaan keamanan siber, Recorded Future melalui divisi riset ancaman sibernya Insikt Group menyebut adanya dugaan peretasan di 10 Kementerian dan Lembaga pemerintah Indonesia.

Peretasan ini disebutkan telah dilakukan oleh Mustang Panda Group, hacker asal China dengan menggunakan private ransomware bernama Thanos.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Berdasarkan laporan dari Insikt Group, yang dikutip Minggu (12/9/2021), Mustang Panda adalah kelompok hacker dengan aksi spionase siber di Asia Tenggara yang mana pada April 2021, ada malware PlugX dari Mustang Panda di dalam jaringan pemerintah Indonesia.

Ketika itu, mereka mendeteksi ada malware command and control (C&C) yang dioperasikan oleh kelompok Mustang Panda dan berkomunikasi dengan host yang ada di jaringan pemerintah Indonesia. Penembusan oleh hacker China ini diduga sudah terjadi sejak Maret 2021. Namun, titik masuk dan metode malware dari peretasan mereka masih belum diketahui dengan jelas.

Lebih lanjut, Insikt Group menyebutkan perusahaan sebelumnya telah memberi tahu pemerintah Indonesia pada Juni dan Juli 2021. Namun, belum ada tanggapan yang diberikan.

Dikutip melalui laman resminya, mereka mengklaim bahwa Badan Intelijen Negara (BIN) menjadi salah satu lembaga yang telah mengalami kebobolan keamanan siber. Adapun, mereka menilai peretasan ini dikaitkan dengan upaya spionase China dalam upaya menghadapi situasi yang menghangat di Laut China Selatan atau kebijakan Belt and Road Initiative (BRI), di mana Negara yang diajak dalam kerja sama menjadi target untuk spionase siber. (ATN)

Tags: Belt and Road InitiativeCyber CrimeLaut China SelatanRansomware
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.