• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Indonesia Dorong Limbah Baja dan Nikel Diolah Jadi Produk Aspal

by Redaksi Asiatoday
June 8, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Dorong Limbah Baja dan Nikel Diolah Jadi Produk Aspal

Industri Baja. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menargetkan limbah padat atau slag dari seluruh smelter di Indonesia dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri. Slag tersebut bisa diolah menjadi produk aspal, batako dan bahan campuran semen.

Menurut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, limbah padat yang terlalu banyak masuk ke dalam kategori limbah B3 atau berbahaya harus diolah agar tidak merusak lingkungan.

“Karena di negara lain itu diolah untuk pelapisan jalan, atau dibuat untuk bahan bangunan, batako, macam-macam. Bedanya di Indonesia, jumlahnya terlalu banyak sehingga menjadi berbahaya, B3 itu kan berbahaya,” terangnya Jakarta, Jumat (30/8/2019).

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Darmin mengakui pengolahan slag menjadi bahan baku industri membutuhkan proses panjang dan beban biaya tinggi. Namun bila dikelola dengan benar akan mendatangkan manfaat dan peluang bisnis baru.

Sementara itu, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saefulhak mengatakan limbah padat selama ini ditimbun begitu saja di mulut tambang.

Total slag di Indonesia bisa mencapai 20 juta ton per tahun dengan proyeksi 35 juta ton pada 2021. Karena itu, pemerintah perlu mendorong pengolahan slag agar menjadi bahan baku industri.

“Selama ini hanya ditimbun saja di tambang dan tidak didaur ulang akhirnya jadi banyak dan menjadi masalah,” ujar Yunus.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), slag tergolong B3. Peraturan yang dikeluarkan KLHK ini mengatur izin pengelolaan dan penyimpanan limbah B3 dan medis.

Agar pengelolaannya lebih ramah lingkungan, pemerintah melalui Kementerian LHK akan membuat acuan khusus. “Kementerian ESDM sih hanya begitu ditugaskan teknisnya dari sana. Saya kira begitu,” tandas Yunus. (AT Network)

Tags: Industri AspalIndustri BajaLimbah B3Pencemaran LingkunganTambang Nikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.