ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menargetkan limbah padat atau slag dari seluruh smelter di Indonesia dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri. Slag tersebut bisa diolah menjadi produk aspal, batako dan bahan campuran semen.
Menurut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, limbah padat yang terlalu banyak masuk ke dalam kategori limbah B3 atau berbahaya harus diolah agar tidak merusak lingkungan.
“Karena di negara lain itu diolah untuk pelapisan jalan, atau dibuat untuk bahan bangunan, batako, macam-macam. Bedanya di Indonesia, jumlahnya terlalu banyak sehingga menjadi berbahaya, B3 itu kan berbahaya,” terangnya Jakarta, Jumat (30/8/2019).
Darmin mengakui pengolahan slag menjadi bahan baku industri membutuhkan proses panjang dan beban biaya tinggi. Namun bila dikelola dengan benar akan mendatangkan manfaat dan peluang bisnis baru.
Sementara itu, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saefulhak mengatakan limbah padat selama ini ditimbun begitu saja di mulut tambang.
Total slag di Indonesia bisa mencapai 20 juta ton per tahun dengan proyeksi 35 juta ton pada 2021. Karena itu, pemerintah perlu mendorong pengolahan slag agar menjadi bahan baku industri.
“Selama ini hanya ditimbun saja di tambang dan tidak didaur ulang akhirnya jadi banyak dan menjadi masalah,” ujar Yunus.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), slag tergolong B3. Peraturan yang dikeluarkan KLHK ini mengatur izin pengelolaan dan penyimpanan limbah B3 dan medis.
Agar pengelolaannya lebih ramah lingkungan, pemerintah melalui Kementerian LHK akan membuat acuan khusus. “Kementerian ESDM sih hanya begitu ditugaskan teknisnya dari sana. Saya kira begitu,” tandas Yunus. (AT Network)
