• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia Hentikan Ekspor, Produksi Nikel Global Turun Drastis Tahun ini

by Redaksi Asiatoday
May 27, 2020
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Potensi Capai 1 Miliar Ton, Komisi VII Dorong Perbaikan Tata Kelola Tambang di Sultra

Tambang bijih Nikel PT Antam Pomalaa, di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Lembaga riset Fitch Solutions memperkirakan produksi nikel global akan berkurang secara signifikan sepanjang tahun ini, seiring pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel oleh produsen nomor satu, Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia secara resmi telah menghentikan ekspor bijih nikel per Januari 2020, lebih cepat setahun dari jadwal yang diumumkan sebelumnya, 2022.

Alhasil, Fitch memperkirakan produksi bijih nikel global akan turun 60 persen secara tahunan (yoy) menjadi 269 juta ton tahun ini.

RelatedPosts

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

Padahal sebelumnya, Fitch memproyeksikan pertumbuhan 15 persen produksi nikel global untuk 2020.

Melansir miningweekly.com, pertumbuhan produksi di Filipina, dimana beberapa tambang yang saat ini ditangguhkan akan beroperasi kembali karena negara tetangga itu ingin menutup kesenjangan pasokan yang disebabkan oleh larangan ekspor Indonesia, akan mengimbangi output Indonesia yang lebih rendah sampai batas tertentu.

Dalam jangka panjang, larangan tersebut dapat meningkatkan investasi ke sektor peleburan Indonesia yang sedang tumbuh, yang memurnikan bijih nikel, demikian kata Fitch.

Menurut Fitch, Filipina diperkirakan akan melengserkan Indonesia sebagai produsen nikel teratas secara global, dengan produksi pertambangan di Filipina diperkirakan akan melonjak signifikan pada tahun 2020 karena operasi penambangan yang masih ditangguhkan saat ini akan segera memperoleh izin untuk melanjutkan operasi.

Perkiraan Fitch, dari 2016 hingga 2018, produksi di Filipina turun rata-rata 12 persen sebagai akibat dari pelarangan penambangan terbuka karena masalah lingkungan.

Fitch meyakini produksi nikel di Filipina untuk terus tumbuh di tahun-tahun mendatang, meskipun ada kekhawatiran bahwa tingkat ketidakpastian kebijakan yang tinggi dapat menghambat pengembangan proyek, sehingga menimbulkan risiko penurunan perkiraan.

Namun, Fitch tetap optimistis produksi nikel di Filipina rata-rata akan tumbuh (yoy) 5,1 persen selama periode 2020 dan 2029, dengan penambang domestik diperkirakan akan bertanggung jawab atas sebagian besar produksi nikel di negara tersebut.

Sementara itu, pada periode yang sama, produsen utama lainnya – Rusia, Australia dan Kanada – diperkirakan akan mempertahankan pertumbuhan produksi yang stabil (yoy), meskipun produksi bijih nikel global diperkirakan turun 15,4 persen tahun-ke-tahun sebagai akibat dari larangan Indonesia.

Pertumbuhan produksi nikel Australia juga akan tetap positif selama tahun-tahun mendatang karena proyek yang direncanakan berjalan sehat. Fitch mengatakan ada 21 proyek nikel baru yang antre di negara benua itu, yang katanya akan mendukung pertumbuhan produksi rata-rata 2,1 persen (yoy) selama periode 2020 hingga 2029.

Australia juga memiliki cadangan nikel sulfida yang penting, yang akan diminati selama beberapa tahun mendatang karena penggunaan nikel dalam produksi baterai kendaraan listrik, yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan produksi yang signifikan di tahun-tahun mendatang.

Akibatnya, ini berarti bahwa sektor nikel Australia kemungkinan akan menarik minat investor lebih lanjut dalam jangka menengah dan panjang, kata Fitch.

Sementara itu, Rusia diperkirakan akan terus merugi dalam hal pangsa produksi nikel global.

Negara ini diperkirakan hanya berkontribusi 8,9 persen dari produksi global pada tahun 2029, turun dari perkiraan 10,4 persen untuk tahun ini, karena rencana proyek baru yang lemah dan lingkungan investasi yang terbatas.

Fitch memperkirakan tingkat pertumbuhan produksi negara itu rata-rata 1,8 persen (yoy) selama tahun 2020 dan 2029 – yang paling lambat dari semua produsen nikel global utama.

Dalam jangka panjang, Fitch memperkirakan produksi nikel global akan tumbuh rata-rata 1,7 persen (yoy) antara 2020 dan 2029, menandai perlambatan dari pertumbuhan rata-rata 6,7 persen (yoy) yang dicapai selama 2010 dan 2019.

Pada 2029, Fitch memperkirakan produksi nikel global tahunan akan mencapai 2,8 juta ton, naik dari 2,1 juta ton yang akan diproduksi tahun ini. (ATN)

Tags: AustraliaBijih NikelFilipinaFitch SolutionsLarangan Ekspor NikelNikelOre NikelRusiaSmelter FeronikelTambang IndonesiaTambang Nikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.