• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia Mulai Produksi Pesawat Amfibi di 2023, Bidik Pasar Asia Pasifik

by Redaksi Asiatoday
November 14, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Mulai Produksi Pesawat Amfibi di 2023, Bidik Pasar Asia Pasifik

Prototype pesawat jenis amfibi N219A yang merupakan pengembangan dari pesawat komersial N219. Dok LAPAN

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Industri penerbangan Indonesia kembali membuat terobosan.

Kali ini, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mulai mengembangkan pesawat jenis amfibi N219A yang merupakan pengembangan dari pesawat komersial N219. Pesawat ini dapat melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air.

Pemerintah Indonesia melalaui Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) mendorong pengembangan pesawat N219A amfibi ini karena sangat diperlukan bagi negara kepulauan, baik di Indonesia maupun negara-negara di Asia Pasifik.

RelatedPosts

Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts

Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi, Ayodhia G L Kalake, fleksibilitas yang dimiliki pesawat ini mampu mendarat di darat, danau dan sungai besar, hingga teluk dan laut.

Selain itu, amphiport (airport untuk pesawat amfibi) dapat dibangun dengan lebih mudah dan murah jika dibandingkan dengan airport pada umumnya.

“Pesawat ini telah diproduksi dengan mengedepankan TKDN, sehingga hasil karya dalam negeri ini tentu mendukung pengembangan konektivitas darat dan laut di Indonesia,” kata dia seperti dikutip dari keterangan resminya, Minggu (14/11/2021).

Direktur Produksi Dirgantara Indonesia Batara Silaban menjelaskan pesawat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, perusahaan migas, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah Maritim.

Di Indonesia, potensi pasar terbesar berada di bidang pariwisata. Pesawat ini tentunya juga mampu mengakomodir Pulau-Pulau terluar, tertinggal, terdepan (3T) yang tersebar di Indonesia.

Berbagai wilayah di Indonesia pun cukup berpotensi untuk menggunakan pesawat ini, seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo. Potensi pasar yang besar juga terlihat khususnya di Asia Pasifik.

Kini, ada 150 unit pesawat aktif dan 45 persen dari total populasi tersebut telah memasuki masa aging.

“Jika sesuai dengan linimasa yang ada, pesawat ini diperkirakan dapat melaksanakan penerbangan pertamanya di tahun 2023,” ungkapnya.

Pesawat N219A memiliki kecepatan hingga 296 kilometer (KM) per jam pada ketinggian maksimal 10.000 kaki. Dengan beban 1560 kilogram, pesawat itu mampu menempuh jarak hingga 231 km.

Untuk lepas landas ke ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter, sedangkan dari air, pesawat tersebut membutuhkan jarak hingga 1400 meter.

Kemudian untuk pendaratan dari ketinggian 50 kaki, pesawat ini membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut.

“Maximum Take-Off Weight pesawat ini mencapai 7030 KG dengan maximum landing weight 6940 KG, dengan total kapasitas bahan bakar 1600 KG,” jelasnya.

Dalam menyempurnakan pesawat itu, berbagai kementerian dan lembaga turut andil di dalamnya.

Kementerian Perhubungan, LAPAN, BPPT, dan PTDI terlibat dalam memaksimalkan pengembangan pesawat ini. Namun, pengembangan pesawat N219A mengalami permasalahan dalam hal penganggaran karena adanya perubahan struktur organisasi LAPAN dan BPPT yang masuk ke dalam organisasi BRIN.

Hal itu telah mempengaruhi perencanaan pengembangan yang sudah ditetapkan sampai tahun 2024 tersebut. Selain itu permasalahan lain seperti tingkat korosif yang tinggi karena mendarat di laut.

Asdep Industri Maritim dan Transportasi Kemenko Marves Firdausi Manti meminta PTDI menginventarisasikan berbagai problematika yang ada.

“Kami harap nantinya ada pertemuan lanjut antara PTDI dan berbagai pihak, baik dengan BRIN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN,” ungkapnya. (ATN)

Tags: Dirgantara IndonesiaIndustri PesawatN219Pesawat N219
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.