• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia Potensi Merajai Industri Kakao Olahan Dunia

Produksi Indonesia terbesar ketiga dunia setelah Belanda dan Pantai Gading

by Redaksi Asiatoday
November 28, 2021
in Business
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Indonesia Potensi Merajai Industri Kakao Olahan Dunia

Biji Kakao Indonesia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia berpotensi merajai industri kakao olah di dunia.

Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia punya peluang besar dalam peningkatan nilai tambah komoditas kakao melalui kebijakan hilirisasi.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika mengemukakan, Indonesia merupakan produsen kakao olahan terbesar ketiga dunia setelah Belanda dan Pantai Gading.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Kekuatan ini ditopang dari 11 industri pengolahan kakao dengan total kapasitas terpasang mencapai 739 ribu ton per tahun.

“Potensi tersebut, didukung ketersediaan bahan baku di dalam negeri. Menurut International Cocoa Organization (ICCO) 2018/2019, produksi biji kakao Indonesia sebesar 220 ribu ton. Indonesia sebagai penghasil biji kakao terbesar keenam di dunia,” ungkap Putu di Jakarta, Minggu (28/11/2021).

Di tengah imbas pandemi Covid-19, industri pengolahan kakao di Indonesia mampu memberikan kontribusi signfikan terhadap devisa. Hal ini tercemin dari capaian nilai ekspor produk kakao olahan nasional sebesar USD1,12 miliar atau naik dibanding tahun sebelumnya yang mencapai USD1,01 miliar.

Produk kakao olahan yang diekspor tersebut, dalam bentuk liquor, butter, bubuk, dan cake.

“Negara tujuan utama ekspor kakao olahan Indonesia, di antaranya ke Amerika Serikat, Belanda, India, Jerman dan China,” sebut Putu.

Produk kakao olahan Indonesia dinilai berdaya saing di kancah global karena industrinya telah memiliki standar internasional.

Bahkan, produk kakao olahan Indonesia seperti cokelat memiliki cita rasa yang khas. Hal ini karena telah didukung dengan pemanfaatan teknologi modern sehingga terciptanya inovasi produk yang unik dan beragam sesuai selera konsumen saat ini.

“Kami juga turut mendorong untuk penggunaan teknologi industri kakao yang inovatif, efektif dan ramah lingkungan sehingga produktivitas dan kualitias kakao Indonesia meningkat,” imbuhnya.

Saat ini, desain kemasan dan bentuk produk kakao olahan Indonesia juga sudah banyak yang menarik sehingga punya nilai jual yang tinggi di pasar domestik dan mancanegara.

Putu menjelaskan, produk-produk kakao olahan merupakan bahan baku untuk menghasilkan produk makanan dan minuman berbasis cokelat seperti permen cokelat, biskuit, wafer, roti, dan es krim. Produk tersebut dihasilkan oleh industri pengolahan skala besar serta sektor industri kecil dan menengah (IKM).

“Produk kakao olahan seperti cokelat sangat bermanfaat bagi kesehatan, antar lain karena tingginya antioksidan, sehingga mengurangi resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan tekanan darah, memperbaiki fungsi otak, serta mengurangi gejala depresi,” sebutnya.

Manfaat kemitraan

Putu menambahkan, industri pengolahan kakao ikut berperan penting dalam menumbuhkan wirausaha industri baru, seperti IKM cokelat. Selain itu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya para petani kakao yang menjadi mitra perusahaan pengolahan kakao.

“Contohnya PT Aneka Coklat Kakao, perusahaan asli Indonesia yang beroperasi di Bandar Lampung,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja di PT Aneka Coklat Kakao, Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2013 ini memproduksi fine chocolate products, dengan  bisnis proses “Farmer to Bar”, yang memiliki sumber penyedia biji kakao di Lampung, Bali, dan Sulawesi. Saat ini, sudah ada sekitar 1.000 lebih petani yang bekerjasama dengan PT Aneka Coklat Kakao, dan ditargetkan akan mencapai 2.000 petani.

Sistem farmer to bar yang diterapkan PT Aneka Coklat Kakao terdiri dari training, harvesting (panen), fermentasi, pengeringan, sorting, roasting, winnowing (pemisahan biji dengan cocoa shell), grinding/refining, tempering/molding, dan wrapping.

Menurut Putu, salah satu cara menjaga pasokan kakao yang berkelanjutan, yaitu dengan meningkatkan produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Oleh sebab itu, perlu kemitraan industri pengolahan kakao dengan petani kakao.

“Kemitraan yang terjalin di antara industri dan petani dapat memperkuat industri kakao di dalam negeri dan memajukan para petani kakao sekaligus perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Founder dan CEO PT Aneka Coklat Kakao, Sabrina Mustopo menyatakan bahwa pihaknya bertekad untuk berkontribusi bagi penguatan dan pemberdayaan para petani kakao lokal, serta aktif memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup.

Upaya ini membuahkan hasil, perusahaannya meraih penghargaan medali Silver dan Bronze untuk kategori packaging, Krakakoa Limited Edition Single Origin Gift set, Tree to Bar, Dark Chocolate dan Dark Milk Chocolate Creamy Coffee dari Academy of Chocolate (AOC) di London, Inggris pada tahun 2017 dan 2018.

Sebelumnya, brand PT Aneka Coklat Kakao adalah Kakao, yang kini telah berevolusi menjadi Krakakoa sejak tahun 2016. Bisnis proses Krakakoa meliputi sektor hulu sampai hilir, dari proses pertanian hingga produksi produk cokelat.

Krakaoa saat ini merupakan salah satu brand artisan yang berhasil membawa cokelat asli Indonesia untuk bisa dikenal di berbagai belahan dunia, seperti di Singapura, Korea, Jepang, dan beberapa negara di Eropa.

Untuk di Indonesia sendiri, cokelat dengan kemasan unik ini sudah bisa ditemukan di supermarket-supermarket premium di kota-kota besar di Indonesia.

Kemasan dari Krakakoa terbilang unik karena menggunakan desain bermotif batik dan hewan-hewan khas Indonesia yang dilindungi.

“Desain packaging pun kami sesuaikan dengan motif yang Indonesia banget. Jadi melalui packaging juga kami mencoba perkenalkan cokelat Indonesia,” ungkap Sabrina.

Berbicara soal produk, Krakakoa memiliki beragam varian jenis dan cita rasa cokelat. Untuk jenisnya dibedakan menjadi flavoured bars, single origin bars, chocolate bark, gourmet nibs, dan blinkies. Sedangkan untuk cita rasanya terdiri dari chili dark chocolate, sea salt & pepper dark chocolate, cinnamon dark milk chocolate, ginger dark milk chocolate, dan creamy coffee milk chocolate. (ATN)

Tags: Ekspor KakaoIndustri CokelatIndustri Kakao
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.