• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Investasi Hijau dan Digital di Indonesia Menjanjikan

by Redaksi Asiatoday
February 26, 2022
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Menggiurkan, Peluang Investasi Hijau di Indonesia

Investasi Hijau. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – PT Bank HSBC Indonesia menilai perekonomian global tahun ini masih akan menghadapi sejumlah tantangan.

Namun, perekonomian Asia mulai pulih dan Indonesia akan mendapatkan manfaat dari perkembangan new economy dan industri hijau.

Di acara tahunan HSBC Wealth Outlook bertajuk ‘Raih Dunia Penuh Peluang di 2022-The Year of Great Reset’, HSBC Indonesia melihat outlook positif pada investasi hijau dengan metrik Environmental, Social, and Governance (ESG). Contohnya ada di sektor kendaraan listrik dan pembangkit listrik berkelanjutan.

RelatedPosts

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

HSBC Indonesia juga menilai ada sejumlah tantangan karena pandemi masih berlangsung sehingga pertumbuhan perekonomian global tahun ini diperkirakan melambat ke level 4,1 persen dari realisasi tahun lalu 5,7 persen.

Secara regional, perekonomian Asia masih prospektif dengan perkiraan pertumbuhan 4,8 persen di tahun ini, ditopang kuatnya permintaan domestik.

Di Asia Tenggara, Singapura akan mendapatkan manfaat dari pemulihan ekonomi global, sementara pasar saham Indonesia akan mendapatkan manfaat dari perkembangan industri hijau yang ditopang oleh industri bahan baku.

Presiden Direktur HSBC Indonesia Francois De Maricourt mengatakan perekonomian dunia saat ini berada dalam the great reset. Artinya, para pembuat kebijakan dan praktisi ekonomi berkolaborasi dalam menentukan arah baru perekonomian yang sangat memperhatikan aspek berkelanjutan.

“Dalam hal ini, HSBC sudah menerapkan aspek berkelanjutan sebagai bagian dari portofolio investasi dalam mengelola risiko dan mencari peluang,” kata Francois, Jumat (25/2/2022).

Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara.

Berdasarkan data konsultan global Kearney, konsumen digital di Indonesia mencapai 219 juta pada 2021 dengan potensi ekonomi digital dalam Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi sebesar USD146 miliar pada 2024.

Potensi ini akan terus meningkat mencapai USD316 miliar pada 2030.

“Potensi ini bukan hanya dari perkotaan saja, namun sudah mulai bergeser dari kota metropolitan ke kota non metropolitan,” jelas Johnny.

Menurut Johnny, ekonomi digital di kota tier dua dan tier tiga yang merupakan kota slow adopter terhadap ekonomi digital bisa bertumbuh tiga kali lipat pada 2025 dan berkontribusi 30-50 persen terhadap keseluruhan ekonomi digital.

Dengan pertumbuhan tersebut, Johnny menyebutkan ada enam industri yang akan berkembang.

keenam indutri itu yakni e-commerce, healthtech, fintech lending, edutech, payment, serta ride and delivery.

“Industri fintech bahkan sangat mendukung keberlangsungan usaha pelaku UMKM dalam masa pandemi,” paparnya.

Demi menangkap peluang transformasi digital itu, Head of Wealth Development HSBC Indonesia Verawaty Zhao mengatakan, pasar saham masih menjadi prioritas portofolio investasi dengan return positif dan lebih tinggi dari obligasi. Hal ini ditopang oleh harapan adanya fase pertumbuhan setelah pandemi.

“Sektor teknologi akan terus unggul di tengah adopsi dunia pada gaya hidup berbasis digital yang memungkinkan masyarakat tetap maju di tengah ketidakpastian seperti pandemi saat ini,” jelas Verawaty.

Verawaty menambahkan, arus modal akan terus masuk ke pasar saham Indonesia seiring berkembangnya sektor teknologi.

Sejumlah rencana IPO perusahaan teknologi dalam 12 bulan ke depan menjadi katalis masuknya aliran dana asing lebih lanjut.

“Kesempatan investasi akan muncul di sektor yang berhubungan dengan transformasi digital seperti cloud computing, AI/Machine learning dan analytics, Internet of Things dan elektrifikasi, financial technology dan pembayaran digital, digital customer engagement serta 5G,” pungkas Verawaty. (ATN)

Tags: Asia DigitalGreen IndustriGreen InvestmenHSBC Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution
  • Indonesia Tells Global Leaders: Net Zero Means Nothing Without Nature
  • As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes
  • Indonesia Bets on AI to Fix Healthcare Gaps, But Risks Leaving Vulnerable Workers Behind
  • Indonesia Flags Trafficking, Extortion Risks at Singapore-Malaysia Gateway
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.