• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

KEIN : Indonesia Butuh Langkah Ekstrim Atasi Defisit Neraca Dagang

by Redaksi Asiatoday
October 17, 2019
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
KEIN : Indonesia Butuh Langkah Ekstrim Atasi Defisit Neraca Dagang

Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mendorong pemerintah menyusun solusi yang ekstra tegas untuk menyelesaikan masalah defisit neraca perdagangan karena terlanjur bersifat sistemik.

Menurut Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta, defisit yang terjadi lebih banyak berada di neraca migas dan ini merupakan persoalan yang tak kunjung usai. Hal itu terakumulasi menjadi penyebab neraca perdagangan defisit selama ini.

“Perbaikan yang dilakukan harus bersifat fundamental. Jika hanya neraca nonmigas yang diperbaiki tanpa diikuti dengan langkah extraordinary di neraca migas, maka persoalan defisit neraca perdagangan sulit untuk diselesaikan,” terang Arif melalui keterangan tertulis, Kamis (17/10/2019).

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan, defisit neraca perdagangan Indonesia periode Januari – September 2019 sebesar US$1,94 miliar, sedangkan untuk periode September 2019, neraca perdagangan defisit sebesar US$160 juta.

Sementara itu untuk neraca nonmigas, periode Januari – September 2019 tercatat surplus sebesar US$4,49 miliar. Berbanding terbalik dengan neraca migas yang defisit sebesar US$6,44 miliar pada periode yang sama.

Dia memerinci hal ini menandakan, defisit neraca perdagangan yang terjadi ini lebih didominasi oleh komponen neraca migas. Meskipun angka defisit neraca migas telah turun dari periode sebelumnya yang masih sebesar US$9,45 miliar.

Arif memandang, perbaikan neraca migas dapat ditempuh melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri, baik minyak maupun gas, termasuk Enhanced Oil Recovery (EOR).

Selain itu, pemerintah juga perlu mempercepat pemakaian sumber-sumber energi baru dan terbarukan seperti tenaga surya, bayu, serta air, juga B30 yang akan berlaku pada 2020, bahkan B100 dalam jangka panjang.

“Insentif perlu diberikan kepada pelaku yang bergerak di bidang energi baru dan terbarukan, sehingga perkembangan energi yang datang dari dalam negeri serta ramah lingkungan, dapat berjalan dengan lebih cepat,” paparnya.

Terkait dengan komitmen pengembangan energi baru dan terbarukan, Presiden Jokowi telah beberapa kali menegaskan jika Indonesia akan terus bergerak untuk menggunakan jenis energi tersebut.

Pemerintah telah menargetkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Target tersebut dapat dicapai salah satunya dengan cara memberikan insentif agar ekosistem EBT dapat terus berkembang.

Sementara untuk perdagangan antarnegara, sumbangan terbesar defisit datang dari Tiongkok dengan sektor nonmigas.

Periode Januari – September 2019, defisit neraca perdagangan Indonesia terhadap Tiongkok sebesar US$13,99 miliar atau masih lebih tinggi dibandingkan dengan defisit periode lalu yang sebesar US$13,95 miliar.

Untuk itu pemerintah harus melindungi sektor-sektor nonmigas yang dapat membantu memperbaiki defisit tersebut.

“Salah satu yang bisa dijaga ialah tekstil. Jangan sampai ada lagi impor ilegal di sektor tekstil. Sehingga produksi tekstil di dalam negeri dapat bersaing,” kata Arif.

Selanjutnya, pemerintah juga perlu melakukan subtitusi impor untuk beberapa industri seperti industri telekomunikasi, agar defisit neraca perdagangan tidak semakin dalam.

Arif pun berpendapat untuk lima tahun ke depan Presiden perlu memilih pembantu ekonomi yang memiliki keberpihakan terhadap kepentingan nasional di bidang perdagangan. Dia juga mengingatkan para pembantu presiden yang baru kelak harus mampu bekerja untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan agar minimal dapat seimbang, lebih baik lagi jika dapat menjadi surplus.

“Kebijakan perdagangan yang memihak kepentingan nasional, seperti dukungan terhadap produksi dalam negeri harus menjadi fokus ke depan melalui diplomasi perdagangan, baik yang bersifat tarif maupun non tarif,” tandas Arif. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Defisit Neraca PerdaganganDefisit Transaksi BerjalanKEIN
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.