• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Kejahatan Syber Menyasar Pengguna Android di Asia Tenggara

by Redaksi Asiatoday
May 2, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Mewaspadai Kejahatan Siber di Perbankan

Kejahatan Cyber. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perusahaan keamanan siber global, Kaspersky mendeteksi kampanye kejahatan canggih dan berbahaya yang menargetkan pengguna perangkat Android.

Peneliti keamanan di Kaspersky GReAT Team melihat hal ini dapat diatribusikan kepada aktor ancaman persisten sebelumnya yang cukup tangguh yaitu OceanLotus.

Ancaman tersebut dijuluki sebagai PhantomLance, kampanye ini telah aktif setidaknya sejak 2015 dan masih berlangsung hingga kini.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Dengan menampilkan beberapa versi spyware yang kompleks, ancaman ini bekerja dengan perangkat lunak yang dibuat untuk mengumpulkan data korban, memiliki taktik distribusi cerdas, termasuk distribusi melalui puluhan aplikasi di pasar resmi Google Play.

“Kampanye ini adalah contoh luar biasa tentang bagaimana aktor ancaman melangkah lebih jauh ke perairan yang lebih dalam dan menjadi lebih sulit ditemukan. PhantomLance telah berlangsung selama lebih dari lima tahun dan aktor ancaman berhasil melewati filter app store beberapa kali,” jelasnya.

Pada Juli 2019, peneliti keamanan pihak ketiga melaporkan sampel spyware baru yang ditemukan di Google Play.

Laporan tersebut menarik perhatian Kaspersky karena berbagai fiturnya yang tidak terduga dan tingkat kecanggihan hingga perilaku berbeda dari Trojan umum yang biasanya diunggah ke toko aplikasi resmi.

Peneliti Kaspersky dapat menemukan sampel lain yang sangat mirip dari malware ini di Google Play. Biasanya mereka menginvestasikan sumber daya cukup besar untuk mempromosikan aplikasi dan meningkatkan jumlah instalasi sehingga dapat meningkatkan jumlah korban.

Namun, lain halnya dengan aplikasi berbahaya yang baru ditemukan ini. Sepertinya operator di belakang mereka tidak begitu tertarik dengan penyebaran massal. Bagi para peneliti, ini adalah petunjuk aktivitas APT yang ditargetkan.

Selain itu, mereka mengumpulkan data mulai dari geolokasi, log panggilan, akses kontak dan SMS, aplikasi juga dapat mengumpulkan daftar aplikasi yang diinstal, serta informasi perangkat, seperti model dan versi OS.

Kemudian, aktor ancaman dapat mengunduh dan mengeksekusi berbagai muatan berbahaya, dengan demikian sekaligus dapat menyesuaikan dirinya dengan perangkat tertentu, seperti versi android dan aplikasi yang diinstal.

Dengan cara ini, sang aktor dapat menghindari kelebihan aplikasi dengan fitur yang tidak perlu dan disaat yang sama juga melakukan pengumpulan informasi.

Android Rentan

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa PhantomLance banyak didistribusikan di berbagai platform dan pasar (marketplace), termasuk, namun tidak terbatas pada, Google Play dan APKpure.

Untuk membuat aplikasi tampak sah, dalam hampir setiap kasus penyebaran malware para pelaku ancaman mencoba membangun profil pengembang palsu dengan membuat akun Github terkait.

Hal ini dilakukan untuk menghindari mekanisme penyaringan yang dilakukan oleh pasar, versi pertama aplikasi yang diunggah oleh aktor ancaman ke pasar tidak mengandung muatan berbahaya apa pun.

Namun, dengan pembaruan selanjutnya, aplikasi menerima muatan berbahaya dan kode untuk menjalankannya.

Menurut Kaspersky Security Network, sejak 2016, sekitar 300 upaya infeksi diamati pada perangkat Android di negara-negara seperti India, Vietnam, Bangladesh dan Indonesia.

Sementara statistik deteksi termasuk infeksi kolateral, Vietnam menonjol sebagai salah satu negara teratas dengan jumlah upaya serangan; beberapa aplikasi berbahaya yang digunakan dalam kampanye juga dibuat secara eksklusif dalam bahasa Vietnam.

Peneliti dapat menyimpulkan bahwa muatan PhantomLance setidaknya 20 persen mirip dengan salah satu kampanye lama Android yang terkait dengan OceanLotus, aktor ancaman yang telah beroperasi setidaknya sejak tahun 2013 dan menargetkan sebagian besar lokasi di Asia Tenggara. (ATN)

Tags: AndroidCyber DefenceCybersecurityKejahatan Cyber Perbankan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.