ASIATODAY.ID, JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) akan membangun lima pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) alumina, blast furnace, feronikel, stainless steel dan kobalt untuk kebutuhan baterai.
Kelima proyek ini diperkirakan menelan investasi sebesar US$ 7,2 miliar atau setara dengan Rp 102 triliun.
Direktur Utama Aneka Tambang Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan untuk projek pertama merupakan smelter alumina yang berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat yang ditargetkan pada September mendatang bisa dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama. Nilai investasi dari smelter ini mencapai US$ 900 juta atau sekitar Rp 13 triliun.
“Sekarang sudah selesai project tender dalam EPC (engineering, procurement and construction), sudah dalam pembukaan harga segala macam, tinggal negosiasi. Diharakan bulan ini sudah final. Awal September sudah mulai groundbreaking,” kata Arie di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (21/8/2019).
Proyek selanjutnya adalah blast furnace, di mana proyek ini sedang dalam proses financial closing dengan nilai investasi di tahap pertama senilai US$ 90 juta-100 juta. Blast furnace atau tanur tiup biasa digunakan untuk mereduksi secara kimia dan mengkonversi secara fisik bijih besi.
Smelter ini nantinya akan memiliki kapasitas total 32.000 ton, namun di tahap pertama kapasitas terpasangnya akan dicicil sekitar 7.000-8.000 ton terlebih dahulu.
Selain itu, Antam juga berencana untuk membuat line kedua dari smelter feronikel di Halmahera Timur dengan kapasitas sama dengan line pertamanya yakni 13.500 ton.
Saat ini Antam tengah dalam proses mencari teknologi baru yang lebih murah untuk smelter ini lantaran teknologi dari Jepang yang sebelumnya dipakai jauh lebih mahal.
“Kalau yang Jepang itu kan capex-nya (belanja modal/capital expenditure) US$ 250 juta, kami cari yang lebih kompetitif. Kalau lebih murah berarti China dong sehingga capex-nya nanti bisa di bawah US$ 200 juta,” paparnya.
Arie menjelaskan, proyek selanjutnya merupakan smelter untuk produk akhir berupa stainless steel dengan target produksinya 500.000-600.000 ton per tahun.
Saat ini, Antam akan bekerja sama dengan perusahaan asal China, Shandong Xinhai untuk membangun smelter. Lokasi pembangunannya pun saat ini masih ditinjau. Namun terdapat dua lokasi yang berpotensi untuk pembangunan tambang ini yakni di Sorong atau Halmahera.
Terakhir, perusahaan tengah dalam pembicaraan untuk pembanguan smelter kobalt yang akan dijadikan sebagai bahan baku baterai. Hasil dari produksi smelter ini nantinya akan diserap oleh Pertamina.
Untuk smelter kobalt ini perusahaan akan bekerja sama dengan induk usahanya yakni PT Inalum (Persero) dengan penyertaan saham bersama sebesar 51%. Diperkirakan nilai investasi untuk seluruh proyek ini mencapai US$ 6 miliar atau Rp 85 triliun.
Arie mengatakan pihaknya sudah menandatangani head of agreement (HoA) dengan Huayou Cobalt Company Ltd, perusahaan yang berasal dari China.
“Lokasinya di Halmahera Timur dan di Sulawesi Tenggara, Kolaka Utara karena di sana kandungnya kobaltnya tinggi 0,12%-0,15%,” jelasnya.
“Dananya nanti harus melakukan beberapa cara obligasi, tapi ada dukungan juga dari Inalum, shareholders loan dan perbankan,” katanya.
Dalam pembuatan baterai, diperlukan nikel dengan kandungan kobalt. Nikel dengan kandungan kobalt termasuk dalam jenis bijih nikel limonit. (AT Network)
,’;\;\’\’
