• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Kolaborasi China, Antam Bangun Lima Smelter Senilai Rp102 Triliun

by Redaksi Asiatoday
August 23, 2019
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kolaborasi China, Antam Bangun Lima Smelter Senilai Rp102 Triliun

Smelter Feronickel PT Antam di Pomalaa, Kolaka. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) akan membangun lima pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) alumina, blast furnace, feronikel, stainless steel dan kobalt untuk kebutuhan baterai.

Kelima proyek ini diperkirakan menelan investasi sebesar US$ 7,2 miliar atau setara dengan Rp 102 triliun.

Direktur Utama Aneka Tambang Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan untuk projek pertama merupakan smelter alumina yang berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat yang ditargetkan pada September mendatang bisa dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama. Nilai investasi dari smelter ini mencapai US$ 900 juta atau sekitar Rp 13 triliun.

RelatedPosts

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

“Sekarang sudah selesai project tender dalam EPC (engineering, procurement and construction), sudah dalam pembukaan harga segala macam, tinggal negosiasi. Diharakan bulan ini sudah final. Awal September sudah mulai groundbreaking,” kata Arie di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Proyek selanjutnya adalah blast furnace, di mana proyek ini sedang dalam proses financial closing dengan nilai investasi di tahap pertama senilai US$ 90 juta-100 juta. Blast furnace atau tanur tiup biasa digunakan untuk mereduksi secara kimia dan mengkonversi secara fisik bijih besi.

Smelter ini nantinya akan memiliki kapasitas total 32.000 ton, namun di tahap pertama kapasitas terpasangnya akan dicicil sekitar 7.000-8.000 ton terlebih dahulu.

Selain itu, Antam juga berencana untuk membuat line kedua dari smelter feronikel di Halmahera Timur dengan kapasitas sama dengan line pertamanya yakni 13.500 ton.

Saat ini Antam tengah dalam proses mencari teknologi baru yang lebih murah untuk smelter ini lantaran teknologi dari Jepang yang sebelumnya dipakai jauh lebih mahal.

“Kalau yang Jepang itu kan capex-nya (belanja modal/capital expenditure) US$ 250 juta, kami cari yang lebih kompetitif. Kalau lebih murah berarti China dong sehingga capex-nya nanti bisa di bawah US$ 200 juta,” paparnya.

Arie menjelaskan, proyek selanjutnya merupakan smelter untuk produk akhir berupa stainless steel dengan target produksinya 500.000-600.000 ton per tahun.

Saat ini, Antam akan bekerja sama dengan perusahaan asal China, Shandong Xinhai untuk membangun smelter. Lokasi pembangunannya pun saat ini masih ditinjau. Namun terdapat dua lokasi yang berpotensi untuk pembangunan tambang ini yakni di Sorong atau Halmahera.

Terakhir, perusahaan tengah dalam pembicaraan untuk pembanguan smelter kobalt yang akan dijadikan sebagai bahan baku baterai. Hasil dari produksi smelter ini nantinya akan diserap oleh Pertamina.

Untuk smelter kobalt ini perusahaan akan bekerja sama dengan induk usahanya yakni PT Inalum (Persero) dengan penyertaan saham bersama sebesar 51%. Diperkirakan nilai investasi untuk seluruh proyek ini mencapai US$ 6 miliar atau Rp 85 triliun.

Arie mengatakan pihaknya sudah menandatangani head of agreement (HoA) dengan Huayou Cobalt Company Ltd, perusahaan yang berasal dari China.

“Lokasinya di Halmahera Timur dan di Sulawesi Tenggara, Kolaka Utara karena di sana kandungnya kobaltnya tinggi 0,12%-0,15%,” jelasnya.

“Dananya nanti harus melakukan beberapa cara obligasi, tapi ada dukungan juga dari Inalum, shareholders loan dan perbankan,” katanya.

Dalam pembuatan baterai, diperlukan nikel dengan kandungan kobalt. Nikel dengan kandungan kobalt termasuk dalam jenis bijih nikel limonit. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Industri BateraiIndustri SmelterPabrik ChinaPT AntamSmelterSmelter FeronikelTambang Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • ASEAN, Russia Agree to Deepen Economic Cooperation Amid Global Uncertainty
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.