• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Kota Yangon Dicat Merah Darah oleh Demonstran

by Redaksi Asiatoday
April 7, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Kota Yangon Dicat Merah Darah oleh Demonstran

Aksi demonstrasi aktivis pro demokrasi menentang kudeta militer di Kota Yangon, Myanmar. Dok Yadonai alemu

ASIATODAY.ID, YANGON – Kota Yangon, Myanmar kini berubah memerah.

Hal itu terjadi setelah para demonstran menyemprotkan cat merah di jalan-jalan di Kita Yangon pada Selasa (6/4/2021). Seperti dilaporkan Reuters, tindakan ini dilakukan untuk mengingatkan junta militer bahwa tangan mereka berlumuran darah akibat kudeta militer.

Beberapa kelompok menyerukan boikot Festival Air Thingyan minggu depan, yang menandai tahun baru umat Buddha. Selebaran yang menyerukan pelarangan, disebarkan di seantero kota Yangon. Selebaran itu menyebut aksi boikot akan menjadi tanda belas kasih bagi keluarga mereka yang terbunuh.

RelatedPosts

Wempi Saputra Appointed ADB Vice-President

Indonesia Joins Global AI Alliance

Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network

“Sekitar 570 orang telah tewas selama dua bulan sejak kerusuhan kudeta 1 Februari, dan pasukan keamanan telah menangkap hampir 3.500 orang, dengan sekitar empat perlima dari mereka masih ditahan,” kata kelompok advokasi Asosiasi Tahanan Politik (AAPP). Selasa.

Para demonstran sudah bergerak pagi-pagi di Yangon, kota terbesar Myanmar, untuk menyemprot dan memercik trotoar, jalan, dan halte bus dengan cat merah. Aksi itu merupakan protes atas tindakan keras yang dilakukan oleh pasukan keamanan yang telah menyebabkan kemarahan internasional selama berminggu-minggu.

“Darahnya belum kering,” kata salah satu pesan dengan warna merah.

“Jangan membunuh orang hanya untuk gaji kecil, serendah harga makanan anjing,” bunyi pesan di halte bus. Pesan-pesan selanjutnya menuduh pemimpin junta, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, mencuri dari rakyat.

Beberapa pengunjuk rasa menyebut gerakan mereka sebagai “revolusi musim semi”, yang ditandai dengan pawai jalanan, tindakan unik pemberontakan tanpa kekerasan, dan kampanye pembangkangan sipil yang bertujuan melumpuhkan aparat pemerintah. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Wempi Saputra Appointed ADB Vice-President
  • Indonesia’s Gold Ambition: Building a Global Bullion Ecosystem Beyond Mining
  • Indonesia Joins Global AI Alliance
  • Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network
  • OPEC+ Builds New Energy Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.