• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Krisis di Myanmar: Rakyat Sipil Mogok Massal Tuntut Pemulihan Demokrasi

by Redaksi Asiatoday
February 22, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Krisis di Myanmar: Rakyat Sipil Mogok Massal Tuntut Pemulihan Demokrasi

Rakyat Sipil di Myanmar Mogok Massal Tuntut Pemulihan Demokrasi. Ist

ASIATODAY.ID, YANGON – Krisis politik di Myanmar belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Jutaan rakyat sipil dilaporkan telah berhenti bekerja dan bergabung dalam gerakan protes dan mogok massal menentang kudeta militer.

Dikutip dari Al Jazeera, Senin (22/2/2021), rakyat Myanmar menyerukan pemulihan demokrasi setelah para jenderal merebut kekuasaan dalam kudeta.

RelatedPosts

Indonesia Joins Global AI Alliance

Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network

OPEC+ Builds New Energy Alliance

Aksi pemogokan umum nasional digelar pada Senin (22/2) meskipun ada jam malam, blokade jalan, dan lebih banyak penangkapan semalam.

Secara terpisah, Amerika Serikat (AS) memperingatkan akan “mengambil tindakan tegas” terhadap militer jika terus menindak orang-orang yang menyerukan pemulihan pemerintah yang terpilih.

Setidaknya dua orang tewas setelah kekerasan selama akhir pekan ketika ribuan orang berkumpul pada Minggu (21/2) di Naypyidaw untuk pemakaman Mya Thwate Thwate Khaing. Perempuan berusia 20 tahun itu ditembak di kepala pada protes di ibu kota pada 9 Februari dan meninggal dunia pada Jumat (19/2).

Pada Minggu malam, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga mengutuk kekerasan tersebut.

“Amerika Serikat akan terus mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang melakukan kekerasan terhadap rakyat Burma karena mereka menuntut pemulihan pemerintah yang dipilih secara demokratis,” tulis Blinken di Twitter.

Pernyataan Blinken merujuk pada Myanmar dengan nama sebelumnya. AS telah menjatuhkan sanksi kepada Jenderal Senior Min Aung Hlaing, yang memimpin kudeta pada 1 Februari dan perwira militer lainnya. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Gold Ambition: Building a Global Bullion Ecosystem Beyond Mining
  • Indonesia Joins Global AI Alliance
  • Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network
  • OPEC+ Builds New Energy Alliance
  • AMMAN Targets 16 Tons of Gold Output in 2026
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.