• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Krisis Iklim Global Berpotensi Memicu Perpecahan Sosial

by Redaksi Asiatoday
January 15, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
KTT Iklim COP26 Sepakati Pengaturan Pasar Karbon

KTT Iklim COP26. Dok Media Pol Kit

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Krisis Iklim global kini menjadi ancaman mengerikan bagi masyarakat dunia di tahun 2022 ini.

Pasalnya, kerusakan yang ditimbulkan akibat krisis iklim berpotensi memicu perpecahan sosial dan risiko kejahatan yang berhubungan dengan internet (siber).

Temuan ini disampaikan dalam laporan Global Risks Report 2022 yang diterbitkan Global Risks Initiative di Jenewa, Swiss.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Forum Ekonomi Dunia (WEF) mencatat risiko kerusakan iklim menjadi ancaman utama global di saat dunia memasuki tahun ketiga pandemi Covid-19.

Menurut Laporan Risiko Global 2022 WEF, risiko jangka panjang yang utama saat ini adalah terkait dengan iklim. Sementara itu, kekhawatiran global jangka pendek paling utama mencakup kesenjangan sosial, krisis mata pencaharian, dan penurunan kesehatan mental.

Peter Giger, Group Chief Risk Officer di Zurich Insurance Group mengatakan krisis iklim tetap menjadi ancaman jangka panjang terbesar yang dihadapi umat manusia.

Ia juga mengatakan bahwa kegagalan untuk bertindak atas perubahan iklim dapat mengurangi produk domestik bruto (PDB) global sebesar seperenam,

“Komitmen yang diambil pada COP-26 masih belum cukup untuk mencapai tujuan 1,5 derajat Celcius. Belum terlambat bagi pemerintah dan bisnis untuk bertindak atas risiko yang mereka hadapi dan untuk mendorong transisi yang inovatif, penuh tekad, dan inklusif yang melindungi ekonomi dan masyarakat,” kata Peter Giger dalam keterangannya, Jumat (14/1/2022).

Laporan ini juga meyakini pemulihan ekonomi global tidak akan stabil dan timpang dalam tiga tahun ke depan.

“Disrupsi di bidang kesehatan dan ekonomi memperburuk keretakan sosial. Kondisi ini menciptakan ketegangan. Kolaborasi antara masyarakat dan komunitas internasional menjadi fundamental untuk memastikan pemulihan global yang lebih merata dan cepat,” ujar Saadia Zahidi, Managing Director WEF.

Menurutnya, para pemimpin dan pemangku kepentingan dunia harus bersatu dan berkoordinasi untuk mengatasi tantangan global yang terus berlangsung serta membangun ketahanan untuk mengatasi krisis berikutnya.

Sementara, Carolina Klint, Pemimpin Manajemen Risiko di Marsh mengatakan seiring perusahaan pulih dari pandemi, mereka dengan tepat mempertajam fokus mereka pada ketahanan organisasi dan kredensial lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG).

“Dengan ancaman dunia maya yang sekarang tumbuh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk membasminya secara permanen, jelas bahwa ketahanan maupun tata kelola tidak mungkin terjadi tanpa rencana manajemen risiko dunia maya yang kredibel dan canggih,” jelasnya.

“Demikian pula, organisasi perlu mulai memahami risiko ruang angkasa mereka, terutama risiko terhadap satelit di mana kita menjadi semakin bergantung, mengingat meningkatnya ambisi dan ketegangan geopolitik,” tambah Klint. (ATN)

 

Tags: Bencana iklimClimate ChangeClimate CrisisKrisis IklimPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.