• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Malaysia Target Netral Karbon di 2050, Tercepat di ASEAN

by Redaksi Asiatoday
October 14, 2021
in GREEN ENERGY
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Dukung Implementasi APEC Putrajaya Vision 2040, Pulihkan Ekonomi di Asia-Pasifik

Kota Putrajaya, Malaysia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Malaysia menetapkan rencana aksi iklim yang sangat ambisius.

Perdana Menteri (PM) Ismail Sabri Yaakob telah mengumumkan bahwa Malaysia bertujuan untuk mencapai netral karbon paling cepat pada tahun 2050 dan merombak sektor energi, transportasi, serta penggunaan lahannya. Target Malaysia termasuk yang paling cepat di Asia Tenggara (ASEAN).

“Nantinya, kendaraan listrik akan mendominasi jalan raya, energi terbarukan akan menggerakkan kota-kota di negara ini, yang akan dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip hijau,” demikian Sabri Yaakob saat menyampaikan rencana aksi iklim Malaysia dihadapan Parlemen pada Kamis (7/10/2021) lalu.

RelatedPosts

U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions

Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition

Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports

Selain itu, skema penetapan harga karbon dan pajak karbon akan berlaku dan tidak ada pembangkit listrik tenaga batubara baru yang akan dibangun, berdasarkan rencana tersebut.

Oleh para ahli, rencana itu sangat ambisius namun implementasinya diragukan.

Sebagaimana dilaporkan CNA, Senin (11/10/2021), Malaysia memasuki negosiasi pada pembicaraan perubahan iklim global yang dimulai pada akhir Oktober di Glasgow.

Di atas kertas, Rencana Malaysia ke-12 (12MP), yang diajukan oleh Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob, adalah pernyataan berani dengan mitigasi perubahan iklim yang menonjol.

Meskipun ada optimisme di sekitar tingkat aspirasi, ada juga kekhawatiran di antara para ahli bahwa kurangnya detail dan terbatasnya kapasitas untuk menerapkan kebijakan yang kompleks dapat menjadi rintangan bagi aksi iklim transformatif.

“Malaysia tidak pernah kekurangan visi strategis jangka panjang. Perencanaan ambisius sama sekali tidak menjadi masalah di Malaysia,” papar Niloy Banerjee, Perwakilan Residen Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) untuk Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

“Tantangan di sini selalu dari rencana ke rencana kerja, implementasi dan mengatasi kendala struktural yang serius pada implementasi itu,” ungkapnya.

Pihak lain mengatakan mereka tidak menduga Malaysia akan mengejar nol bersih begitu cepat, satu kebijakan yang menempatkannya di antara negara-negara paling ambisius dalam strategi iklim jangka panjang di Asia Tenggara (ASEAN).

Indonesia bertujuan untuk menjadi netral karbon pada tahun 2060 misalnya, Thailand bahkan lebih lambat, sementara Singapura ingin mencapai target “secepatnya” pada paruh kedua abad ini.

“Sebenarnya, kami sangat, sangat terkejut. Karena kami belum pernah mendengar tentang Malaysia yang memikirkan netralitas karbon pada tahun 2050,” ujar Meena Raman, Presiden Friends of the Earth, Malaysia.

“Ini memberi sinyal untuk lima tahun ke depan, tetapi kami tidak memiliki detailnya,” keluhnya.

Kebijakan nasional yang berpusat pada lingkungan, perubahan iklim dan keanekaragaman hayati masih harus diperbarui, dan rincian tentang kerangka penetapan harga karbon, standar ekonomi bahan bakar dan insentif untuk energi terbarukan belum ditentukan.

Banerjee mengatakan memiliki “bintang utara” untuk memandu reformasi ekonomi secara luas berguna, tetapi rincian yang dangkal meninggalkan lubang di seluruh bidang kebijakan penting.

“Kurangnya detail membuat saya berhati-hati,” kata Darshan Joshi, analis Institut Studi Strategis dan Internasional Malaysia.

Menurut Joshi, rencana aksi iklim Malaysia adalah dokumen holistik yang menunjukkan pemahaman pemerintah tentang semua langkah yang harus diambil agar Malaysia dapat mengatasi perubahan iklim secara efektif di tingkat domestik.

“Tapi sampai kita mengetahui detail dari kebijakan Anda, sulit untuk menilai ambisi kami yang sebenarnya,” tambahnya. (ATN)

Tags: Climate ActionEmisi KarbonMalaysiaNet Zero
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.