• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Mengapa Tesla Lebih Melirik Nikel Australia Dibanding Indonesia?

by Redaksi Asiatoday
July 29, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Tesla Gandeng Tambang Nikel Kaledonia Baru untuk Bahan Baku Baterai

Kawasan industri Tesla di Negara, AS. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Tesla akhirnya memutuskan memilih kerjasama dengan BHP Nickel Australia untuk membeli nikel sebagai bahan baku baterai mobil listriknya melalui penandatanganan pada 22 Juli 2021 lalu.

Selain mensuplai nikel, Tesla dan BHP juga akan bekerjasama dalam pengembangan energy storage  yang ramah lingkungan.

BHP adalah perusahaan tambang dari Australia yang mempunyai area tambang nikel di Australia Barat.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Jauh sebelum itu, Tesla dan Pemerintah Indonesia diketahui saling menjajaki dalam kerjasama itu.

Namun mengapa Tesla lebih memilih nikel Australia dibanding Indonesia?

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar  memaparkan pandangannya soal itu.

“Tidak ada yang tahu pasti kenapa kerjasama yang sangat strategis ini dimulai,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulisnya pada Kamis (29/7/2021).

Menurut Archandra, ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk kenapa Tesla memilih BHP.

Pertama, tekanan dari pemegang saham agar Tesla menunjukan usaha dan berpartisipasi dalam mengurangi dampak dari perubahan iklim. BHP adalah salah satu perusahaan tambang yang sangat peduli dengan lingkungan dan berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi karbon (CO2) terkecil.

“Mereka punya komitmen untuk mengelola tambang yang ramah lingkungan dengan menggunakan energi terbarukan,” jelasnya.

Kedua, ada kesamaan visi antara Tesla dan BHP dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi ramah lingkungan.

Tesla dan BHP berkomitmen untuk membangun usaha yang berkelanjutan (sustainable) dan handal, sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama.

“Pandangan jauh kedepan dari kedua perusahaan ini akan saling menguatkan posisi mereka di mata investor,” katanya lagi.

Ketiga, kerjasama ini akan menaikkan nilai saham kedua perusahaan.

“Dapat dibayangkan, bagaimana reaksi investor jika Tesla kerja sama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan. Tesla bisa jadi mendapatkan harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun maka kerugian besar bagi Tesla. Kata orang Minang, Tesla kalah membeli, tapi menang memakai,” kata mantan Wakil Menteri ESDM ini.

Sebaliknya, hal yang sama juga berlaku untuk BHP. Apa yang terjadi kalau BHP menjual nikel kepada perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan.

“Nilai saham BHP bisa turun. Inilah fenomena ke depan yang harus dihadapi perusahaan dunia yang sudah go public. Mereka harus peduli dengan lingkungan kalau tidak ingin ditinggal investor,” katanya.

Keempat, adanya usaha yang sungguh-sungguh dari Pemerintah Australia membantu perusahaan tambang mereka untuk berpartisipasi dalam mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim. Mereka menyadari bahwa dalam jangka pendek akan ada biaya lebih yang harus dikeluarkan penambang ramah lingkungan.

“Tapi pemerintah hadir lewat insentif fiskal yang bisa meringankan beban perusahaan tersebut. Inilah kunci membangun dunia usaha yang berkelanjutan dan handal. Tidak dipaksa melalui jalan sulit dengan peta jalan yang buram,” tandas Arcandra.

Namun demikian, Arcandra kembali menekankan bahwa semua analisa ini belum tentu sepenuhnya benar. Hanya saja, satu hal yang perlu dicermati adalah tidak berpengaruhnya biaya tenaga kerja yang lebih mahal di Australia terhadap masuknya investor ke sana.

“Paling tidak, bukan sebagai faktor penentu investor berinvestasi di sana. Investor lebih punya ketertarikan terhadap perusahaan dan peluang bisnis yang ramah lingkungan. Perusahaan kelas dunia sangat cerdas dalam mengumpulkan data-data akurat terhadap komitmen sebuah perusahaan, termasuk praktek-praktek bisnis yang biasa mereka lakukan di suatu negara. Inilah zaman baru yang terbuka dan transparan,” imbuhnya. (ATN)

Tags: Archandra TaharBHP Nickel WestNikelTesla
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.