• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Mewaspadai Bencana Iklim Paling Mengerikan di Planet Bumi pada 2038

Dari Hilangnya Lapisan Es Greenland hingga Hancurnya Hutan Amazon

by Redaksi Asiatoday
July 7, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
NASA Terbangkan Satelit Monitoring Kenaikan Permukaan Air Laut Global

Lapisan es di Greenland. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para ilmuwan mendengungkan, bencana iklim paling mengerikan di planet bumi akan terjadi pada 2038.

“Titik kritis” iklim, seperti hilangnya hutan hujan Amazon atau hilangnya lapisan es Greenland, bisa terjadi dalam masa hidup manusia.

Studi baru dari para ilmuwan memperingatkan soal ekosistem bumi yang akan mengalami keruntuhan lebih cepat daripada yang diperkirakan.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Menurut penelitian, lebih dari seperlima titik kritis akan mencapai puncaknya pada 2038 dan berpotensi menyebabkan bencana ekologis global secara permanen.

Titik kritis merujuk pada titik di mana perubahan lingkungan mencapai ambang batas yang mengarah pada perubahan drastis yang tidak bisa dipulihkan lagi, seperti, mencairnya permafrost di Arktik, runtuhnya lapisan es Greenland, dan bagaimana tiba-tiba hutan hujan Amazon berubah menjadi sabana secara permanen.

Menurut Simon Willcock, seorang profesor di Universitas Bangor di Inggris, ketika suatu ekosistem mencapai titik kritis, maka upaya perbaikan atau pemulihan akan sangat sulit untuk dilakukan. Diperlukan tindakan yang lebih proaktif untuk melindungi dan memulihkan ekosistem yang terancam. Berbeda dengan penelitian yang sudah mapan soal hubungan pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan iklim.

Penelitian soal titik kritis sendiri masih jadi perdebatan, lantaran pemahaman ini perlu mempertimbangkan kompleksitas dan interaksi alam yang ada di dalamnya. Bahkan, simulasi dan prediksi mengenai titik kritis dalam ekosistem dapat meleset jika mereka tidak mempertimbangkan elemen atau interaksi penting secara menyeluruh.

Hal ini seperti laporan terbaru Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), badan di PBB yang mengkaji ilmu iklim yang menyatakan hutan hujan Amazon dapat mencapai titik kritis yang mengubahnya menjadi sabana pada 2100.

Namun, para peneliti di studi baru ini menyatakan prediksi tersebut terlalu optimis. Mereka mengatakan sebagian besar studi titik kritis cenderung memusatkan perhatian pada satu penyebab utama keruntuhan, seperti deforestasi di hutan hujan Amazon. Padahal, ekosistem tidak hanya bersaing dengan satu masalah. Sementara kenaikan suhu, degradasi tanah, polusi air, dan tekanan terhadap ketersediaan air pun bisa saling mempengaruhi.

Sejauh ini, profesor geografi fisik di Universitas Southampton di Inggris John Dearing memaparkan keruntuhan bisa terjadi 23 hingga 62 tahun lebih awal, tergantung pada sifat tekanan yang ada.

“Apabila titik kritis dulunya diprediksi akan terjadi pada 2100 (sekitar 77 tahun dari sekarang), maka akan lebih cepat, tergantung sejauh mana peningkatan gangguan pada ekosistem,” jelasnya.

Menurut Dearing, sekarang sangat sulit untuk memprediksi secara pasti bagaimana titik kritis dalam ekosistem yang disebabkan oleh perubahan iklim dan tindakan manusia lokal akan saling terhubung. Namun, temuan penelitian menunjukkan perubahan iklim dan tindakan manusia lokal saling berinteraksi dan dapat memperburuk dampak satu sama lain pada ekosistem. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

 

Tags: Bangor UniversityBencana iklimIntergovernmental Panel on Climate ChangeIPCCKrisis IklimSave Earth
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Accelerates US$20 Billion Masela Gas Project to Reinforce Energy Security Amid Global Turmoil
  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.