• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Forum

Mitigasi Konflik di Kawasan, ASEAN Regional Forum Jembatani Preventive Diplomacy

by Redaksi Asiatoday
July 15, 2023
in Forum
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Mitigasi Konflik di Kawasan, ASEAN Regional Forum Jembatani Preventive Diplomacy

ASEAN Regional Forum (ARF) ke-30, yang digelar di Jakarta, Jumat (14/7/2023). Foto: Kemlu

ASIATODAY.ID, JAKARTA – ASEAN Regional Forum (ARF) ke-30, digelar di Jakarta, Jumat (14/7/2023).

Forum ini diharapkan mampu menjembatani preventive diplomacy untuk menjaga perdamaian dan mencegah terjadinya konflik di kawasan.

ASEAN Regional Forum (ARF) didirikan pada 1994 untuk membentuk arsitektur keamanan kawasan pasca Perang Dingin melalui upaya membangun kepercayaan (confidence building measures) yang mengedepankan dialog dan konsultasi.

RelatedPosts

Southeast Asia Faces Refugee Crisis as Aid Shrinks and Human Trafficking Risks Surge

Indonesia Unveils 30 Million Carbon Credits in Bid to Become Global Carbon Market Powerhouse

Indonesia Tells Global Leaders: Net Zero Means Nothing Without Nature

Namun, saat ini lanskap keamanan kawasan telah banyak berubah akibat meruncingnya rivalitas negara adidaya (great powers) di kawasan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Retno Marsudi yang memimpin pertemuan itu menyampaikan bahwa pendekatan “tit for tat” telah menciptakan krisis kepercayaan yang dalam, sehingga menghambat kerja sama. Ia juga menggarisbawahi potensi konflik yang berasal dari sengketa wilayah dan konflik etnik.

Tantangan tersebut semakin kompleks dengan munculnya masalah keamanan non-tradisional seperti terorisme, perdagangan orang, dan perompakan laut.

“Kompleksitas ini menuntut kita untuk dapat mengelola potensi konflik dengan cara yang lebih baik. Kita harus menggunakan ARF sebagai wahana untuk mengupayakan perdamaian dan mencegah terjadinya konflik di kawasan,” ujar Menlu Retno.

Menlu Retno menegaskan pentingnya mengubah defisit kepercayaan menjadi strategic trust. Ia juga menekankan perlunya membangun kerja sama yang bermanfaat langsung bagi masyarakat di kawasan. Untuk itu, Indonesia terus mendorong kerja sama konkret visi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

“Kerja sama tersebut tidak hanya bermanfaat di bidang ekonomi, namun juga dapat mendorong  kerja sama strategis di tengah situasi geopolitik saat ini,” ujar Menlu Retno.

Lebih lanjut, Menlu Retno menyampaikan bahwa sudah saatnya ARF bertransformasi ke tahap selanjutnya untuk menjadi mekanisme pencegahan konflik (preventive diplomacy) yang lebih responsif dalam menghadapi tantangan keamanan di kawasan.

Sementara dalam pernyataan nasional, Menlu Retno menyampaikan 3 rekomendasi untuk menjadikan ARF memiliki peran dalam preventive diplomacy:

Pertama, menerapkan norma dan nilai-nilai yang dijunjung ASEAN, seperti yang tertuang di dalam Piagam ASEAN dan Treaty of Amity and Cooperation (TAC).

“Kita memerlukan pedoman untuk mencegah terjadinya konflik. Dalam hal ini, karena domain maritim menyimpan banyak potensi konflik, kita perlu menetapkan aturan main khususnya di domain maritim,” ujar Menlu Retno.

Kedua, ARF harus mendorong kerja sama konkret. Menlu Retno menyampaikan bahwa ARF harus menjadi sebuah mekanisme berorientasi aksi untuk menghadapi tantangan keamanan kawasan.

Terdapat sejumlah kerja sama yang dapat dilakukan seperti program peningkatan kapasitas dan joint exercises. Kerja sama konkret tersebut harus bersifat inklusif dan tidak mengancam pihak lain.

“Inilah bentuk upaya preventive diplomacy yang dapat mencegah terjadinya konflik,” jelas Menlu Retno.

Ketiga, penguatan kapasitas institusional ARF. Dalam hal ini, Menlu Retno mendorong penguatan peran ARF Chair dan Friends of the ARF Chair. Menlu Retno juga mendorong mekanisme Track II ARF.

Lebih lanjut Menlu Retno menekankan bahwa untuk memajukan mekanisme ARF ke tahap preventive diplomacy, diperlukan kemauan politik dari seluruh pihak.

Pertemuan ARF ke-30 menyoroti sejumlah isu keamanan kawasan maupun di luar kawasan di antaranya terkait isu Myanmar, keamanan maritim Laut China Selatan, denuklirisasi di Semenanjung Korea, dan pentingnya kawasan Indo-Pasifik yang bebas dari senjata nuklir. Isu di luar kawasan masih didominasi dampak perang yang terjadi di Ukraina.

Para peserta pertemuan juga menyampaikan apresiasi kepemimpinan Indonesia di ASEAN, terutama dalam mendorong implementasi Five Point Consensus (5PC) di Myanmar. Peserta pertemuan juga menegaskan dukungan pada sentralitas ASEAN dan penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: ASEAN Regional ForumIndo PasifikPreventive Diplomacy
No Result
View All Result

Terbaru

  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026
  • Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals
  • Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen
  • Bangladesh’s Banking Crisis Deepens as World Bank Unveils $450 Million Rescue Package
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.