• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Myanmar Kian Bergolak, Rakyat Sipil Turun ke Jalan Protes Diktator Militer

by Redaksi Asiatoday
February 7, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Myanmar Kian Bergolak, Rakyat Sipil Turun ke Jalan Protes Diktator Militer

Rakyat Sipil Turun ke Jalan Protes Diktator Militer di Myanmar. Ist

ASIATODAY.ID, YANGON – Kudeta militer di Myanmar menciptakan situasi di Negeri itu kian bergolak.

Puluhan ribu rakyat sipil turun ke jalan di kota-kota Myanmar pada Sabtu untuk mengecam kudeta serta mendesak pembebasan Suu Kyi.

Mereka meneriakkan, “Diktator militer, gagal, gagal, Demokrasi, menang, menang”.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Di tengah gejolak itu, militer Myanmar  menangkap Sean Turnell, warga Australia yang juga penasihat ekonomi Aung San Suu Kyi. Dia menjadi warga asing pertama yang ditangkap sejak kudeta pada Senin lalu.

Dikutip dari Reuters, Minggu (7/2/2021), Turnell menyatakan dirinya ditahan pada Sabtu tanpa mengetahui apa kesalahannya.

“Saya kira Anda akan segera mendengar, tapi saya ditahan. Dituntut atas sesuatu, tapi tidak yakin apa. Saya baik-baik saja dan kuat dan tidak bersalah atas apa pun,” katanya, dalam pesan kepada Reuters.

Kementerian Luar Negeri Australia menyatakan keprihatinannya atas penangkapan tersebut.

“Sangat prihatin dengan laporan warga Australia dan warga asing lainnya yang ditahan secara sewenang-wenang di Myanmar. Kedutaan Besar Australia di Yangon terus menghubungi warga Australia di Myanmar untuk memastikan keselamatan mereka, sejauh komunikasi memungkinkan,” bunyi pernyataan, tanpa menyebut nama Turnell.

Turnell merupakan profesor ekonomi dari Universitas Macquarie Sydney. Dia bekerja untuk Suu Kyi sejak beberapa tahun lalu.

Sementara itu pemerintahan Myanmar hasil kudeta memblokir internet untuk membendung unjuk rasa menentang kudeta yang berlangsung di berbagai kota, termasuk Yangon.

Pada Sabtu malam sempat beredar rumor Suu Kyi dibebaskan, namun segera dibantah pengacaranya.

Warga mengatakan, pesan itu dibagikan oleh media yang dikelola militer, Myawaddy.

Pengacara Suu Kyi, Khin Maung Zaw, membantah pemimpin berusia 75 tahun itu dibebaskan dan mengatakan masih dalam tahanan.

Kelompok pemantau NetBlocks Internet Observatory melaporkan, pemblokiran internet secara nasional membuat konektivitas turun hingga 16 persen dari normal. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.