• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Pakar: Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air Bukan Akibat Cacat Desain

by Redaksi Asiatoday
January 10, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Presiden Jokowi Perintahkan Pencarian Maksimal Pesawat Sriwijaya Air SJ182

Pesawat Sriwijaya Air SJ182. Dok

ASIATODAY.ID, VIRGINIA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Republik Indonesia hingga kini masih menyelidiki penyebab kecelakaan  pesawat Sriwijaya Air SJ182 di perairan laut Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Meskipun masih dalam investigasi, pakar penerbangan asing menduga kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak itu bukan disebabkan masalah desain yang cacat.

Dikutip dari Businessinsider, Minggu (10/1/2021), Richard Aboulafia, seorang analis penerbangan di Teal Group, tidak percaya kecelakaan adalah akibat dari cacat desain pada model pesawat.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

“Ini bahkan bukan model sebelum MAX, ini telah beroperasi selama 30 tahun jadi sepertinya bukan kesalahan desain,” katanya kepada Bloomberg.

Dikatakan, pesawat berusia 26 tahun itu adalah Boeing 737-500 dan bagian dari seri “Classic” 737 yang selesai diproduksi pada 1999.

“Ribuan pesawat ini telah dibuat dan produksinya berakhir lebih dari 20 tahun yang lalu, jadi sesuatu akan ditemukan sekarang,” tambahnya.

Dalam email ke Insider, Aboulafia mengatakan bahwa meskipun 26 tahun masa kerja melebihi usia pensiun yang biasa di banyak pesawat, bukan hal yang aneh bagi pesawat yang sudah tua untuk terbang.

“Dan akan sangat aman dengan asumsi prosedur pemeliharaan yang benar diterapkan dan ditegakkan oleh regulator lokal,” tulisnya.

Kecelakaan Sriwijaya Air terjadi di tengah beberapa tahun yang sulit bagi Boeing.

Pada Oktober 2018 dan Maret 2019, dua pesawat model Boeing 737 MAX jatuh, menewaskan total 364 orang. Pesawat itu dipesan di seluruh dunia sementara regulator dan Boeing bekerja untuk memperbaiki apa yang tampaknya menjadi cacat desain mendasar pada model tersebut.

Pada akhir tahun 2020, setelah penyelidikan intensif, Administrasi Penerbangan Federal mengizinkan 737 MAX dapat terbang lagi. (ATN)

Tags: Kecelakaan PesawatSriwijaya Air
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.