• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Para Ilmuwan Inggris Temukan 50 Planet Baru dengan Bantuan Artifisial Intelligence

by Redaksi Asiatoday
September 5, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Para Ilmuwan Inggris Temukan 50 Planet Baru dengan Bantuan Artifisial Intelligence

Temuan planet baru. Foto: warwickuniversity

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para ilmuwan dari Universitas Warwick, Inggris telah menemukan dan mengonfirmasi keberadaan dari 50 planet baru menggunakan bantuan sistem kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI).

Penemuan itu dimulai dari sebuah riset panjang. Pada 1995, astronomi Alexander Wolszczan dan Dale Frail tengah mengamati bintang pulsar, ketika mereka memerhatikan bahwa ritme terpaut dari cahaya yang berdenyut tampaknya melewatkan satu ketukan.

Cahaya yang berdenyut di luar ritme itu menyebabkan penemuan planet ekstra surya pertama yang disebut 51 Pegasib. Sejak saat itu, mereka menemukan dunia yang jauh, yang mengorbit bintang selain matahari bumi. Sejauh ini, ada lebih dari 4.000 planet di luar tata surya (exoplanet).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Pencarian terus berlanjut dengan misi luar angkasa yang sedang berlangsung untuk menjelajahi kosmos. Untuk mempercepat prosesnya, tim astronomi telah menemukan algoritma pembelajaran mesin baru yang dapat mengesampingkan informasi palsu dan mengonfirmasi exoplanet sebenarnya.

Dua misi utama di balik penemuan exoplanet yang sedang berlangsung adalah misi Kepler NASA dan misi Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS).

Kepler melihat apakah ada planet yang mengorbit di dalam zona layak huni dan TESS mengamati 200.000 bintang paling terang di langit.

Saat sebuah planet transit di depan bintang induknya, hal itu menyebabkan sedikit penurunan cahaya bintang. Mesin mencari kemiringan exoplanet sebagai petunjuk adanya planet yang mengorbit bintang itu. Setelahnya, astronomi memastikan bahwa itu memang planet yang menyebabkan variasi cahaya.

Dilaporkan bahwa ada lebih dari 3.000 titik serupa yang masih menunggu untuk dikonfirmasi sebagai planet.

David Armstrong, profesor di Universitas Warwick ingin membuat algoritma yang akan membantu astronomi menyaring data itu jauh lebih cepat.

“Kami ingin mengembangkan algoritma ini untuk bekerja dengan misi yang sedang berlangsung. Prosesnya jauh lebih cepat dan kami dapat menerapkannya ke lebih banyak kandidat planet,” terangnya, dikutip dari Inverse, Sabtu (5/9/2020).

Tim peneliti melatih algoritma untuk mengenali planet mana yang nyata dan mana yang bukan, dengan memberi sampel besar dari planet yang telah terkonfirmasi asli dan palsu sebelumnya. Dengan pola data itu, sistem pembelajaran mesin mempelajari cara memisahkan data dalam dua kategori.

Selanjutnya, para peneliti menggunakan algoritma tersebut pada kumpulan data ribuan planet yang terkonfirmasi. Hasilnya, algoritma itu mampu mengonfirmasi 50 planet baru dari basis data. Planetnya bervariasi mulai dari yang seukuran bumi hingga neptunus.

“Apa yang telah kami lakukan secara berbeda dari teknik pembelajaran mesin lainnya adalah mencoba membuatnya menjadi bersifat probabilistik, yang secara statistik memungkinkan penemuan planet bukan hanya memeringkatnya,” kata Armstrong.

Algoritma yang ada sebelumnya memungkinkan pemberian hasil data dengan peringkat exoplanet dalam hal kemungkinannya menjadi planet, tapi sistem algoritma baru ini menentukan probabilitas setiap planet menjadi Planetnya sendiri.

Armstrong mengatakan bahwa 50 planet yang ditemukan dengan bantuan mesin pembelajaran ini adalah yang telah melewati ambang batas 99 persen kemungkinan dari sebuah planet. Artinya, sangat kecil kemungkinan klaim tersebut salah atau tidak akurat.

Saat penemuan exoplanet baru terus berlanjut, para peneliti akan semakin cepat menindaklanjuti penemuan tersebut dan melakukan analisis lebih lanjut untuk mencari planet atau tempat baru yang layak huni di bumi, di luar angkasa sana. (ATN)

Tags: Artifisial IntelligenceInggrisPlanet BumiWarwick University
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.